Amsterdam dan hal-hal yang sebaiknya dipendam

Amsterdam bukan sekadar kota yang dibangun di atas bumi yang menolak tenggelam. Ia adalah saksi atas peristiwa-peristiwa yang ditambal-sulam, dan khusus bagiku, yang mungkin sebaiknya dipendam.

Ia berikan tapak untuk berjalan pada permukaan laut sebagaimana ia persilahkan air menjalar di sela-sela petak tanah. Terkadang mengapung, terkadang menjejak, tapi yang pasti di sanalah perasaanku pernah singgah. Sebuah gumpal hati yang sudah kuminta tapi enggan menyerah.

Kota ini pernah membuatku kesal dengan tingkahnya menelan matahari di sudut Januari. Tapi datangnya musim semi berikan pengganti yang sepadan. Di pinggir kanal Singel, kujumpa bunga yang merekah. Entah mana yang lebih marun, mahkota tulip atau senyummu.

Dari titik pertemuan itu, kita mengayuh pedal bersandingan. Aku mulai hapal dengan bel sepeda kunomu dan kebiasaan isengmu membunyikannya. Dentingnya beriringan dengan detik waktu yang kuharap tak bergerak terlalu cepat, yang mana detak jantungku kewalahan mengimbangi.  

Sejujurnya aku sedikit telat menyadari perasanku seperti menemukan lagu favorit di penghujung kaset side B. Kamu adalah judul yang kunantikan dan sekalinya terputar akan terus diulang. 

Tapi perputaran itu layaknya kincir angin yang setia pada porosnya. Angin berhembus tapi kita tak beranjak. Kau rentangkan baling-baling dengan tiang yang menancap kokoh sementara aku rentangkan layar di tiang kapal. Aku salah mengira kita hendak melaut. 

Kusimpan cerita dari bandar ini pada buku harian. Kutuliskan bahwa aku telah melepaskan walau tinta pena menunjukkan aku pembohong yang buruk. Entah bagaimana cara membuka lembaran baru. Ada penanda merah pada namamu, tapi aku buta warna saat mengejanya.

Sembari ditemani sore, aku menjuntaikan kaki di tepi dermaga yang tampak ringkih. Ingin kuhanyutkan segalanya pada kanal yang memeluk muara. Sedikit kusadari saat itu, bahwa Amsterdam adalah tempat terbaik untuk belajar membendung, tak terkecuali air mata.




Ampera, 07/03/21


Photo by Leif Niemczik on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Hai Kamu

"Baik Baik Saja"

Dunia yang Sibuk