Yang Dingin Bukan Hujan




Pernah kutemui seorang gadis kecil menggerutu kesal dengan wajah yang basah kuyup. Sedari sore langit juga menumpahkan kesalnya lewat hujan. Keduanya menjatuhkan air dengan beban yang coba dilepaskan, entah mana yang lebih deras.

Di pelataran toko ia berteduh sembari menunggu hujan reda, seakan-akan ia punya tempat pulang. Ia tidak mendefinisikan rumah dengan tumpukan bata, yang barangkali sampai kapanpun tak mampu ia bangun. Apapun yang beratap, baginya bisa jadi tempat untuk menghabiskan malam.

Setelah lama lelah berdiri, ia memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya. Ia menyandarkan tubuh ringkihnya pada dinding yang tentu saja keras, tidak seperti jaring pengaman sosial. Sungguh ia layak dan butuh sentuhan kasih sayang. Namun yang mampu ia peroleh adalah pelukan dirinya sendiri yang sedang menggigil.

"Yang dingin bukan hujan tapi kemiskinan.", 
bisik gadis yang membenci namanya sendiri itu. Ia dilahirkan dengan panggilan "Ria", sedangkan kehidupan memanggilnya "Dera". Hal ini yang terkadang membuatnya merasa ingin dipanggil Tuhan.

Jika dilihat seksama, sejatinya ia diberi anugerah dengan wajah yang menyenangkan. Senyumnya mampu membuat iri lengkung pelangi. Ia mempunyai sepasang mata yang berkilau, yang kurang-lebih akan membuatmu terkagum, sampai kau tahu seberapa sering ia membasuhnya.

Saat orang-orang di umurnya berlomba-lomba mencari pencapaian, ia dipermainkan keadilan. Padahal ia hanya ingin mendapatkan kesempatan. Dalam hati kecilnya, ia tidak muluk berharap dibukakan lintasan berlari. Cukup berikan alas kaki untuk berjalan. Dengan demikian setidaknya ia tidak perlu takut tertusuk duri.

Ria pernah sekolah. Namun ia bingung apakah akan melanjutkan, terlebih setelah menanyakan pada perutnya apakah ingin sekolah. Tentu saja perut tidak bisa disumpal dengan janji masa depan. Di antara bekerja dan belajar, Ria bingung membedakan mana yang sebab dan mana yang akibat.

Teringat di suatu hari di sekolah, Bu guru pernah menanyakan mimpi pada murid-muridnya. Ria berpikir keras hingga akhirnya ia menjawab, "Aku ingin punya atap rumah". 

Bu guru kaget, bukan karena mendengar jawaban Ria; tapi karena setelah bertanya kepada yang lain, ia menyadari bahwa Ria tidak sendiri saat menangis bersama hujan. 


27/11/20
Srengseng Sawah

gambar dari sini 

Comments

Popular posts from this blog

Hai Kamu

"Baik Baik Saja"

Dunia yang Sibuk