Semangkuk bubur




Belakangan aku kerap menyantap semangkuk bubur, yang dengannya tak perlu kuhabiskan energi untuk mengunyah. Perihal sepele ini sedikit meringankan bebanku yang sudah terlalu lelah mencerna kehidupan. Sekali suap kemudian telan. Andai melahap masalah bisa semudah ini, barangkali bisa kuhabiskan sesal yang menumpuk terlalu banyak di atas piringku. 

Sarapan tak lagi semenyenangkan dulu. Awalnya kupikir ini soal perisa yang kurang terasa. Tapi sepertinya lidahku yang tak lagi peka, karena terlalu sering menjilat asam garam. Gigiku juga kadang-kadang ngilu, tapi bukan karena berdenting dengan garpu. Ada getir yang tergigit setiap aku mengeja namamu.

***

Kau pernah bilang bahwa bahwa kopi adalah teman sarapan terbaik. Bukan karena aroma atau rasanya, melainkan kau percaya bahwa ia mengijinkanmu untuk mewakilkan percakapan yang ingin diterusterangkan. Kala itu aku melihatmu tersenyum tapi tak benar-benar bisa memahami apa yang kau bicarakan.

Aku pernah menunggumu dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Pada pantulan permukaannya yang pekat, tampak wajahmu menggumamkan ketidakterusterangan. Jika kau tak pernah berniat datang, semestinya tak perlu kau tanyakan alamat rumah. 

Sebaliknya, kau pernah janjikan aku secangkir coklat hangat. Dengan naif aku membayangkan kau akan menyajikannya saat hujan. Sayangnya kau tak pernah memberitahu alamat rumahmu. Sulit sekali bagiku untuk bisa memahami di mana keberadaanku di matamu. 

***

Pernah terpikir mengajakmu sarapan bubur. Tapi kuurungkan karena aku takut nanti bukan isi mangkuk yang kau aduk. Sejatinya aku tak pernah mempermasalahkan perdebatan soal pengadukan bubur. Tapi jelas ada hal-hal yang sebaiknya dijaga tetap pada tempatnya.

Aku membayangkan hari di mana aku melupakan namamu. Saat itu, barangkali aku tak lagi menyantap bubur atau menyeduh kopi.



Tandes, 21/10/20



Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Laksana Hujan

Hai Kamu