Diam



Terima kasih telah peduli, tapi biarkan aku sendiri. Terima kasih untuk mencoba paham, tapi biarkan aku diam.

Aku sudah terlalu banyak mendengarkan petuah bagaimana bicara berujung lega, berkeluh membantu sembuh, dan bersuara adalah muara. 
Cukup dengan nasehat untuk tidak menampung dan memendam. Apapun yang ada di dalam, ia bukan sandera untuk dibebaskan. 
Jangan pula memintaku untuk menulis lagu atau prosa. Barangkali kau perlu diingatkan bahwa isak-sengguk tidak bernada.

Bagiku bercerita berarti menerjunkan diri sebagai lakon pada panggung peristiwa, menjejak kembali langkah yang telah disesalkan, mengulang kembali percakapan yang ternodai serapah, dan yang terburuk dari itu, merasakan kembali kehampaan yang ingin ditenggelamkan.

Terkadang aku berpikir, mereka yang gemar menawarkan telinga boleh jadi hanya pemburu cerita. Perhatian menjadi selimut dari kenginantahuan untuk membuka kotak pandora. Hanya saja aku bukan pemeran dongeng pengantar tidur.

Aku terlahir dengan lidah yang dipelihara kejujuran. Karenanya kupilih bisu ketimbang mengisahkan kepalsuan. Aku masih ingat bagaimana semua dimulai dan tak pernah berniat mengubahnya walaupun bisa. Aku juga ingat bagaimana itu berakhir dan berharap mengubahnya walaupun tak bisa. Maka sekali lagi biarkan aku diam.

Diam menjadi caraku dalam menggenggam kesadaran. Ia menandai keberadaanku di tengah kerumunan yang bising mengusik. Dengan menyumpal keramaian, aku mempersilakan diriku untuk mendengarkan suaraku sendiri. 

Seperti memperhatikan rembulan yang berkaca pada samudra, aku memeluk kedamaian dengan cara yang berbeda. Darinya aku belajar bahwa ada yang bisa ditatap indah tanpa harus menengadah.

Mungkin aku remuk, atau barangkali hanya lelah. Inginku mengerutkan diri hingga cukup kecil untuk bisa diabaikan orang lain. Sementara ini aku nyaman berjalan sendiri. Biarkan aku menjadi bocah yang tertatih dalam mengerti keadilan, untuk memahami bahwa suatu jalan hidup yang bagi sepihak adalah tragedi namun sejatinya ia lahir sebagai konsekuensi dari pilihan dan keputusan. Karenanya tidak ada yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan.

Terima kasih telah menyapa, tapi biarkan aku bertapa.
Terima kasih untuk mencoba bertanya, tapi biarkan aku menghela jeda. 
Kalaupun ada yang kubutuhkan, itu pengertian atas diamku.


Rawapule, 20/07/20






gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati