Menemukan Kehilangan



Aku dan kamu adalah kebetulan-kebetulan yang dipertemukan.
Sedangkan 'kita' adalah kemauan-kemauan yang diperjuangkan.

Sampai pada persimpangan itu, kau masih membawa dirimu dengan cara yang sama, yakni sebagai niat baik, yang tak bergerak di antara pertemuan dan perjuangan. 
Kau mendekat untuk memotong separuh jarak. Namun setengah lipatan, berapa kalipun, tak akan pernah menyatukan kita di titik yang sama. 

***
Mari kuantarkan pada perjalananku sebagai air yang jatuh di antara milyaran bulir hujan. Bersama yang lain, kubertamu pada bumi untuk menggenapi sebuah peran. Entah diantar guntur atau badai, sejatinya aku tak punya daya selain turun perlahan.

Aku tak terlalu memahami bagaimana dunia bekerja dan tak juga bisa melawannya, selain ikut mengalir meniti hilir. Menemukanmu di ujung muara adalah jalan langit yang diterjemahkan pada liuk-liuk sungai. Dari pertemuan itu kupahami definisi lain dari 'terjatuh'.

Denganmu aku tidak pernah mempertanyakan ke mana arus membawa. Satu waktu kita adalah ombak yang menggoda manja kaki gadis di bibir pantai. Kita berdansa bersama buih dan pasir yang ingin menyelinap ke samudra.

Di lain waktu kita adalah tampias yang bosan terjebak di sudut beranda. Bagaimanapun bentuknya, aku menikmati iringanmu meskipun kau hanya diam menggenang. Dalam gelombang yang merambat bersama riak, kita bicara tanpa suara.

Ingin kuberitahu bahwa hal terbaik dari menemukanmu adalah menemukan diriku sendiri. Aku mengembun dengan kesejukan yang menyelimuti daun. Tetes beningnya mewakili ketulusan yang bisa kau terawang.

Namun sayangnya ini berarti bahwa hal terburuk dari kehilanganmu adalah kehilangan diriku sendiri. Aku mendidih dengan letupan gelembung yang mengutuk udara. Kemudian menguap dan berharap lenyap tanpa bekas yang bisa kau raba.

Aku pernah menganggapmu masa depan, tapi bagaimana bila ternyata kamu bukan rumah.



Kali Tengah, 20/05/20


gambar

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Dunia yang Sibuk