Dongeng Kemiskinan



Mari kuperkenalkan pada seorang bocah yang sering kutemui di jembatan penyeberangan. Namanya Topan dan ia bercita-cita menjadi kaya setelah melihatku menenteng nasi bungkus. Baginya, sesuap nasi adalah jawaban doa dari Tuhan.

Dari hari ke hari ia menjajakan tisu, minuman, atau entah apapun yang bisa bisa ia tukarkan dengan rupiah. Selain nama yang ia karang sendiri, nominal uang adalah satu-satunya tulisan yang bisa ia baca.

Wajahnya begitu lusuh. Garis kemiskinan melengkung dari ujung alis hingga tatapannya pada masa depan. Esok adalah istilah yang valid dieja bila hari ini perutnya terisi. Karenanya, ia tak pernah membuat janji. Setidaknya dengan begitu tidak ada yang pernah ia ingkari.

Di bawah garis itu, dua puluh lima juta orang berteduh, atau lebih tepatnya terperangkap. Kita tak pernah merasa heran bahwa mereka berwarna kulit yang sama, tapi tak pernah dianggap setara. Kita sadar tapi hanya bisa menyuruh mereka bersabar. 

Kemiskinan ditatap dengan teropong analisis dari menara gading. Ia dilukiskan dengan goresan data, lalu didongengkan di altar bintang lima, kedap dari suara keroncong perut yang papa.

Di meja para politisi, dongeng itu diawali dengan tawaran intervensi melalui prolog "Jika saya menjadi...". Semua orang tentu tahu bagaimana selanjutnya namun tetap saja ia mendapatkan posisi. 

Di meja para akademisi, dongeng itu dipresentasikan dalam gagasan metodologi. Sahut demi sahut argumen dibenturkan demi validasi. Sayangnya keberhasilan mereka diukur dari tanda signifikansi***.

Kemiskinan itu mereka, 
bukan kita, 
apalagi kami, 
dan jangan sampai aku.

Tapi Topan tetaplah Topan. Ia bersama wajahnya yang lapar, tersenyum, menangis, terbelalak, tersinggung dan semua ekspresi yang tak berarti. Sebab ia menyatu dalam angka-angka yang tersusun rapi sebagai subjek observasi.

Aku ingin meminta maaf kepada Topan bahwa ia harus tinggal di dunia yang menyalahkannya karena terlahir tanpa daya, yang menyudutkannya karena tidak mampu mencari jalan keluar, yang memintanya untuk tidak mengusik dan menyusahkan.



Jetis, 04/04/2020

photo

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu