5 Tempat Terbaik untuk Bersedih



Jempolku berguling pagi ini di atas layar gawai. 
Ia terhenti pada sebuat kicau yang memamerkan "5 tempat terbaik untuk bersedih."
Kicau-kicau ini tak berbunyi tapi selalu saja penging mengusik.
Mereka seharusnya belajar bahwa air mata bukan komoditas untuk dibingkai pada linimasa.
Tidak ada orang yang membenturkan kepalanya pada tembok untuk sekadar membuat kegaduhan. 
Terkadang sengguk berbentuk getar untuk didengar, tapi ia tak pernah berupa binar lentera yang dipajang untuk menarik perhatian. 
Kalaupun kesedihan adalah gelombang cahaya, ia adalah lilin yang berpendar dengan kerentanannya.
Hindarkan angin hasut berhembus, atau aku akan lupa mana yang lebih dulu padam: nyala api atau tekadku untuk beranjak dari keputusasaan.

Hati terluka dengan gores yang tak sama.
Tidak pernah ada preskripsi yang dibuat untuk menyenangkan semua.
Sudah seharusnya mereka berhenti menetapkan standar atas bagaimana memeluk kesedihan.
dan aku punya caraku sendiri.

Aku bersedih dengan terkulai. 
di atas dipan yang semula enggan menopang jiwa yang terberai. 
Tapi lambat laun ia memahami beban yang kusimpan.
Tak ada yang lebih melegakan ketimbang muatan yang dialihkan.
Aku merebah dan berulang kali berusaha memejamkan mata, karena dengan begitu aku bisa berhenti mengeja namanya.

Aku bersedih dengan kopi.
yang dengannya kisahku bertemu pesaing untuk menjadi yang terpahit.
Aku menyukai kedai yang tidak memasangkan kursi-kursinya. 
yang karenanya aku merasa dipersilakan untuk menikmati kesendirian.
Dengan menyendiri aku mengumpulkan alasan-alasan untuk menolak peduli, pada hal-hal yang ditawarkan dengan kepalsuan.

Aku bersedih dengan melebur pada latar belakang,
hingga tidak ada yang menanyakan, hingga tak ada yang kehilangan.
Lagipula aku hanyalah bayangan tak dicari wujudnya.
Maka cukup bagiku untuk menggenapi ruang yang enggan disentuh cahaya.

Aku bersedih dengan detak jantung yang tak lagi terdengar familiar.
Barangkali ritme denyutnya telah direvisi karena jatuh bersama perasaan yang dianggap kesalahan.
Tapi bagaimana mungkin itu sebuah kesalahan bila degupnya bersambut dengan yang di sana.
Ada ketuk harmoni yang dilewatkan, atau sengaja dilupakan.

Aku bersedih dengan cuitan-cuitan konyol yang menjadi bahan gerutu.
dan kali ini aku menyerapah pada "5 cara terbaik untuk menangis".



Cikini, 20-01-2020

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati