Posts

Showing posts from 2020

Menemukan Kehilangan

Image
Aku dan kamu adalah kebetulan-kebetulan yang dipertemukan.
Sedangkan 'kita' adalah kemauan-kemauan yang diperjuangkan.

Sampai pada persimpangan itu, kau masih membawa dirimu dengan cara yang sama, yakni sebagai niat baik, yang tak bergerak di antara pertemuan dan perjuangan. 
Kau mendekat untuk memotong separuh jarak. Namun setengahlipatan, berapa kalipun, tak akan pernah menyatukan kita di titik yang sama. 

***
Mari kuantarkan pada perjalananku sebagai air yang jatuh di antara milyaran bulir hujan. Bersama yang lain, kubertamu pada bumi untuk menggenapi sebuah peran. Entah diantar guntur atau badai, sejatinya aku tak punya daya selain turun perlahan.

Aku tak terlalu memahami bagaimana dunia bekerja dan tak juga bisa melawannya, selain ikut mengalir meniti hilir. Menemukanmu di ujung muara adalah jalan langit yang diterjemahkan pada liuk-liuk sungai. Dari pertemuan itu kupahami definisi lain dari 'terjatuh'.

Denganmu aku tidak pernah mempertanyakan ke mana arus membawa. Satu …

Dongeng Kemiskinan

Image
Mari kuperkenalkan pada seorang bocah yang sering kutemui di jembatan penyeberangan. Namanya Topan dan ia bercita-cita menjadi kaya setelah melihatku menenteng nasi bungkus. Baginya, sesuap nasi adalah jawaban doa dari Tuhan.

Dari hari ke hari ia menjajakan tisu, minuman, atau entah apapun yang bisa bisa ia tukarkan dengan rupiah. Selain nama yang ia karang sendiri, nominal uang adalah satu-satunya tulisan yang bisa ia baca.

Wajahnya begitu lusuh. Garis kemiskinan melengkung dari ujung alis hingga tatapannya pada masa depan. Esok adalah istilah yang valid dieja bila hari ini perutnya terisi. Karenanya, ia tak pernah membuat janji. Setidaknya dengan begitu tidak ada yang pernah ia ingkari.
Di bawah garis itu, dua puluh lima juta orang berteduh, atau lebih tepatnya terperangkap. Kita tak pernah merasa heran bahwa mereka berwarna kulit yang sama, tapi tak pernah dianggap setara. Kita sadar tapi hanya bisa menyuruh mereka bersabar. 

Kemiskinan ditatap dengan teropong analisis dari menara gadi…

5 Tempat Terbaik untuk Bersedih

Image
Jempolku berguling pagi ini di atas layar gawai. 
Ia terhenti pada sebuat kicau yang memamerkan "5 tempat terbaik untuk bersedih."
Kicau-kicau ini tak berbunyi tapi selalu saja penging mengusik.
Mereka seharusnya belajar bahwa air mata bukan komoditas untuk dibingkai pada linimasa.
Tidak ada orang yang membenturkan kepalanya pada tembok untuk sekadar membuat kegaduhan. 
Terkadang sengguk berbentuk getar untuk didengar, tapi ia tak pernah berupa binar lentera yang dipajang untuk menarik perhatian. 
Kalaupun kesedihan adalah gelombang cahaya, ia adalah lilin yang berpendar dengan kerentanannya.
Hindarkan angin hasut berhembus, atau aku akan lupa mana yang lebih dulu padam: nyala api atau tekadku untuk beranjak dari keputusasaan.

Hati terluka dengan gores yang tak sama.
Tidak pernah ada preskripsi yang dibuat untuk menyenangkan semua.
Sudah seharusnya mereka berhenti menetapkan standar atas bagaimana memeluk kesedihan.
dan aku punya caraku sendiri.

Aku bersedih dengan terkulai. 
di atas dip…