Merelakan Perbedaan



Aku penasaran apakah sejatinya kamu dan cinta adalah hal yang sama. 
Aku menatapmu dengan penuh kesadaran bahwa kita tak sedang bercermin. 
Aku dan kamu digariskan dengan pena nasab yang berbeda. 
Kepada parasmu aku bunar, kepada kelasmu aku menjinjit, dan kepada semua yang kau sembunyikan di belakangmu aku menengadah. 
Maka jangan salahkan aku yang pernah menyalahartikan sapa.

Dengan ringan kau bilang perbedaan adalah hal yang layak dirayakan. 
Bahwa pelangi yang dicetak pada lembar monokrom adalah pemandangan yang membosankan. 
Kau tawarkan pewarna dan aku kemudian luluh menelan senyummu yang sepertinya tulus menyetarakan derajat. 
Karenanya, dari sudut kekerdilan, kulirihkan "hai juga" yang pernah tertunda. 
Sebuah respons yang nantinya kusesalkan.

Aku memasuki duniamu dengan langkah perlahan. 
Tak ada kubangan atau jalan licin tapi tetap saja aku takut terjatuh. 
Denganmu yang berjalan seiringan, saat itu aku menjelma tangan yang ingin digenggam. 
Sementara kau tawarkan lebih dari sekadar bahu untuk bersandar.

Semua tampak baik-baik saja. 
Tak ada yang salah hingga kita memperdebatkan makna sebuah kata yang selama ini kita anggap selaras. 
Kita menyebut perasaan ini dengan istilah yang sama namun dengan pemahaman yang berbeda. 

Kau mengartikan cinta sebagai luapan perasaan yang diejawentahkan melalui perhatian. 
Kau meraciknya dalam bentuk komedi untuk ditertawakan, lagu untuk didengar, dan dongeng yang membuat petang tak lagi basi. 
Bagimu cinta dituliskan dengan ejaan "selamat tidur" atau titik-dua-tutup-kurung yang secara adiktif kunantinkan di beranda malam.

Sayangnya aku menerjemahkan cinta sebagai wujud komitmen yang dengannya kita menanam kepercayaan untuk meniti hari esok. 
Aku tak bisa memaksamu, tapi jujur aku mengira "iya"-mu menyertai dalam perjalanan menuju 'perjanjian yang kukuh'. 
Aku lelah dengan permainan jari kelingking yang sejatinya tak pernah mengikat apapun kecuali benang harapan.

Gelisahku tumbuh saat mereka bisikkan 'tidak' yang menjadikan tanganmu tersimpul kaku. 
Kemudian menjadi-jadi saat mereka isyaratkan bahwa aku orang liyan. Saat aku minta berjuang, kau malah tanyakan jalan pulang. 
Aku menoleh ke belakang dengan tatapan "sudah sejauh ini". 
Kau utarakan sesal dan tangis yang sulit kupahami. 
Simpan saja maafmu.

Dengan berat harus kusampaikan bahwa perbedaan adalah hal yang selayaknya direlakan. 
Biarkan aku kembali meringkuk di sudut kekerdilan.




Simatupang, 7-12-19

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Laksana Hujan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana