"Baik Baik Saja"



Adakah orang yang dengan tulus menanyakan kabar? 
yang menganggap keberadaanku berarti dan apa yang terjadi padaku bukan sekadar cuap sambil lalu.
yang karenanya tak perlu kupalsukan "baik-baik saja" untuk mengubur kegelisahan. 
Tapi bahasa basa-basi sepertinya terdengar lebih manusiawi dan aku tak punya insentif untuk meamerkan kelamnya hari.

Depresi itu nyata dan aku terjatuh ke dalamnya. 
Setiap pagi aku merasa seperti berada di mimpi buruk berkelanjutan yang menjadikanku ragu apakah aku sudah terjaga.
Entah bagaimana matahari membagikan sinarnya, kulihat langit dan awan bak lukisan dengan kombinasi cat kelabu.
Ingin kukembali tidur tapi memejamkan mata berarti melihat ingatan yang seharusnya kulupakan.

Depresi itu seperti kamar yang menjebakku dengan perasaan pilu yang konstan.
Ada satu jendela namun ia berwujud kiasan.
Ada satu pintu namun ia tak menerima ketukan.
Tak ada selot untuk ditarik, tak ada gagang untuk diputar.
Ingin kuhantam pecah namun kusadari justru aku yang sudah remuk ambyar.

Aku tidak bisa memilih. 
Kesedihan sudah menjadi teman, yang membuatku lupa bahwa kebahagiaan itu ada.
Kehidupanku terlalu menyesakkan sehingga terkadang aku perlu memohon kepada bayanganku sendiri untuk tetap sabar mengikutiku yang terlalu lamban berjalan,
atau barangkali memang aku yang enggan beranjak.

Aku tak bisa memahami bagaimana orang menyarankanku untuk perlahan bernafas padahal aku sedang tenggelam. 
Aku menelan bergalon-galon air yang tampaknya dari luar seperti hanya sedang tersedak. 
Yang lebih tak kumengerti adalah bagaimana mereka menyuruhku bahagia, seakan-akan ada saklar yang bisa kutekan seenaknya.
Trauma yang mengikat sebagian kesadaran, membuat emosiku tak berfungsi, kecuali untuk memeluk kecemasan.

Aku menggigil karena tubuh tak mampu menerjemahkan kehangatan dari perhatian-perhatian.
Satu orang tanyakan kabar dan kukatakan saja "flu" agar terlihat lebih normal. 

Aku tidak membiarkan mataku menangis sebanyak yang semestinya ia butuhkan. 
Satu orang tanyakan kabar dan kukatakan saja "kurang tidur" agar ia diam.

Aku kehabisan prasangka baik untuk menerima keramahan.
Satu orang tanyakan kabar tapi malah kujawab mengapa. 
Lambat laun mereka berhenti bertanya.

Adakah aku yang dengan jujur mengatakan (tidak) baik-baik saja?



Kuningan, 21-12-19


gambar

Comments

  1. Terimakasih untuk tulisannya & terimakasih untuk menerima segala perasaannya juga:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah mampir. Semoga bermanfaat :)

      Delete
    2. kamu berani untuk mengungkapkannya!
      banyak org yang sulit mendeskripsikannya, termasuk saya.
      kamu kuat, & kamu hebat

      Delete
  2. Apa kabar pyan ? Semoga baik-baik saja ya di sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Doniii. Alhamdulillah. Di sana di mana nih? Ini udah balik ke rumah ko

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Laksana Hujan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana