Laksana Hujan



Entah untuk keberapa kalinya, sajak ini bicara soal hujan dan rasa. Habis bagaimana, keduanya melekat dalam wujud yang satu dan barangkali hidupku memang melulu soal itu. Tapi khusus kali ini, keduanya tertulis sebagai teman di penghujung Oktober.

Perasaan datang seperti hujan. Ia memenuhi tugasnya untuk hadir sebagai takdir, yang menjelma dalam bentuk kebetulan-kebetulan. Kau boleh duga, boleh juga tidak.

Perasaan jatuh seperti hujan. Dengan tulus ia terjun tanpa niat mengganggu, apalagi menyakiti. Hanya saja waktu dan keadaan yang terkadang menjadikannya salah. Kau boleh kesal, boleh juga tidak.

Perasaaan membelai lembut seperti hujan. Tapi kau harus terima konsekuensi bahwa ia membuatmu basah, dan boleh jadi kau akan lelah menyeka. Kau boleh berteduh, boleh juga tidak.

Hujan turun dari langit tanpa mengharap bumi akan membalasnya. Kemudian menanyakan kepadamu masihkah menuntut terbalasnya rasa. Lewat keikhlasan, ia saksikan bahwa akan ada masa saat butir-butir air kembali ke langit, dengan bentuk dan caranya sendiri. Kemudian menanyakan kepadamu sabarkah dalam menunggu. Karena layaknya hujan, perjalananmu juga sudah dituliskan.

Laksana hujan, perasaan boleh diminta tapi tak bisa dipaksa. Boleh ditunggu, tapi tak pernah tentu. Mengenai waktu, ada hal yang lebih penting ketimbang mengharapkan orang yang kau anggap tepat, yakni memperjuangkan ia yang mau menetap.


Zaragoza, 28/10/19




Photo by David Lezcano on Unsplash

Comments

  1. dibanding mengharapkann atau menanti, ternyata ada yang lebih penting lagi, memperjuangkan-entah dalam bentuk apa.
    Kata itu bernama memperjuangkan; mencari orang atau mendoa keduanya bagian dari berjuang. mencari tahu atau meminta dihubungkan, berenang dalam informasi dan mendengar kata hati, tanya sana sini dan bertaruh-bahkan berperang dengan hati sendiri, adalah sahabat baiknya memperjuangkan, tak akan lepas, sulit dipisahkan.
    Pun diskusi dan mencari titik temu dengan orang tua yang terkadang bak cari jarum dalam jerami.

    Apapun, gue yakin lo udah di tahap ini sih. Selamat (saling) memperjuangkan Py.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terlepas dari sajak yang ngga berhubungan dengan gue ini (sebagaimana sajak fiktif lainnya), komennya Fitri bener banget dan perlu direnungin. Sudah paham banget sepertinya ya. Selamat sudah berhasil berjuang sampa tahap ini dan semoga seterusnya. Makasih, Fit.

      p.s. Maaf banget kemarin ndak bisa hadir. Sedang ada keperluan di Kediri.

      Delete
    2. tidak apa Pyan, mohon doa terbaiknya ya. Terima kasih :")

      Oh satu lagi yang ternyata lupa ketulis, memperbaiki diri-meski terdengar klise dan kayak akun2 hijrah atau akun2 yg komporin nikah muda-juga salah satu varian dari memperjuangkan.


      karena bahkan definisi dari memperbaiki diri itu betulan luas sekali-bahkan termasuk soal menambah ilmu soal hal-hal yang berubah dari masih sendiri dan bersama, dan dulu ga sepikiran bakal seribet itu, wkwk

      Delete
    3. Noted with many thanks, like a lot.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Pura Pura (1)