Berhentilah Berbaik Hati



Berhentilah berbaik hati, karena ada jiwa yang salah memahami. Kepedulianmu barangkali murni, tapi hati bukanlah setir yang mudah dikemudi. Bagi sebagian orang, menjatuhkan rasa bukan sebuah pilihan, melainkan gaung yang bersambut pada denting bunyi.

Semua dimulai dari tegur sapa, yang sedikit di antaranya senyummu tersangkut manja. Dering obrolan daring silih berganti merambat di alam maya. Entah lugu atau malu, wajah itu tersipu di depan layar gawai. Orang yang kasmaran kadang tampak menggelikan, apalagi bila sudah jauh terbuai.

Bagimu episode sore itu sekadar membunuh waktu dengan semerbak wangi secangkir kopi. Tapi di seberangmu ada sosok yang menikmati suasana dengan sedikit terlena. Ia merasa di serambi surga bersama bidadari dengan rupa tanpa cela.

Selanjutnya bunga mimpi tayangkan drama klise yang seolah mengamini imajinasi. Hingga pada suatu waktu ada benih yang tertanam. Setelah ia tumbuh dan berbunga, kau enggan petik buahnya.

Tentu saja kau bilang tak ada maksud buruk. Baikmu adalah baikku, juga mereka. Sayangnya, dalam perkara kabaikan, aku gemar terlalai. Ketidakberdayaanku menyebabkan setiap kebaikan menjadi kepalsuan. Jika demikian, alangkah baiknya bila kau tawarkan saja kepura-puraan.

Harapan adalah bangunan yang terdiri dari tumpukan kekeliruan persepsi dan dulu aku begitu mahir dalam urusan kesalahpahaman. Kenaifan membuatku lupa, bahwa kehidupan tak punya niat baik. Suatu kejadian adalah titik netral yang ditarik ke sumbu tertentu untuk memuaskan ekspektasi.

Aku telah belajar dan karenanya telah berhenti berharap. Kupastikan selalu untuk tidak terjatuh lagi. Dengan berbesar hati kupeluk kekalahan dan menjadi veteran dalam perjuangan hidup. Tanpa sadar kini aku begitu mahir dalam urusan menarik diri. Sebagai pendekar kesendirian, jiwaku melekat pada kesepian.

Ada kata baik dalam mengabaikan. Berhentilah berbaik hati, karena tak ada jaminan kau tak akan mengabaikan.



Pare, 15/10/19

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Pura Pura (1)