Cendera




Selain adonan tanah, barangkali manusia dibentuk dengan campuran prasangka. Karenanya, kelima indra bekerja sebatas pada wujud rupa. Karenanya, ia tak punya kemampuan untuk memahami jantung yang berdetak di luar dada. Begitupula denganku yang meraba tanpa cahaya.

Aku tidak mengenalmu dan tidak pula tahu bagaimana kau mengenalku. Dengan segala ketidakpekaan, kususutkan setiap kemungkinan pada sudut kira-kira. Sebelum aku tergoda untuk mengintip bilik masa nanti, aku berhenti mencungkil bata pada tembok asumsi.

Imajinasiku terbakar mengabu sepanjang linting Djisamsoe. Pada kebul asap yang mengapung di langit-langit beranda, bayangmu tampakkan wajah yang lain dari biasa. Hembus angin membuyarkannya. Hembus harapan mengundang sejuta tanya.

Aku ingin tenggelam dalam tidur cendera kemudian bangun membuka mata dari kelopakmu. Dengan begitu aku bisa memahami kehidupan dari lensa pandanganmu. Lebih dari itu, aku bisa tahu di mana kau menaruh aku setelah lewat menyapa lembaran retina.

Dari matamu aku belajar. Satu demi satu, kuhitung bongkah gula yang kau larutkan dalam cangkir keramahan. Barangkali begitu asal racikan senyum manis yang sesekali kau pamerkan. Lembar demi lembar, kupindai jumlah buku yang kaulebur dalam bejana igauan. Nyatanya banyak yang kau sembunyikan dari sekadar perangai lugu. Sedikit demi sedikit, aku ingin lebih mengenalmu.



Gombak, 23/08/19


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Pura Pura (1)