Bus Kota




Perjalanan sore itu terasa lebih lama. Bukan karena bus kota sudah tua, tapi waktu seakan enggan merangkak maju. Semua kursi ramai terisi, namun yang duduk adalah patung sunyi.

Kuhitung rintik hujan yang manja merambat di permukaan jendela kaca. Pada tiap butirnya, kuberikan kesempatan ia untuk mewakili ekspresi kesedihan, yang mana air mata telah bosan membahasakan.

Mereka bilang waktu sembuhkan luka. Bahwa kekecewaan akan memudar perlahan dan pilu tersulam cerita baru. Sayangnya aku adalah seonggok bayang yang terjebak di suatu senja saat kau ucapkan sampai jumpa. Detik itu aku membatu kaku dan tak tahu cara menengok esok.

Mereka bilang hidup harus terus berlanjut. Bahwa roda akan berputar dan jalan terbuka lebar. Sayangnya aku berada pada poros kelam dan satu-satunya gerak adalah tenggelam.

Akal sehat ingin melupa, namun jiwa batin tersangkut masa lalu. Kucoba suarakan untuk menuang beban barang sejenak. Entah aku yang bisu atau mereka yang tuli. Jeritan hati tertelan sepi.

Mari kembali pada tetes bening hujan yang jujur pantulkan penyesalan, yang jatuh dengan penuh kepasrahan. Tak ada yang perlu dilawan. Begitulah soal luka, ia ada dan minta dirasa.



Dortmund 19/06/19

Comments

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini