Pura Pura (2)




Aku berpura-pura melupakanmu dan berharap bisa terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.

Kita tidak pernah menginginkan perpisahan pada jalan yang kita pilih. Namun takdir menuntun kaki kita pada kesadaran bahwa kita tidak lagi melangkah pada tapak yang beriringan. Kamu pergi dan aku bingung harus bagaimana.

Dari “sampai jumpa” yang secara naif kutafsirkan, aku masih terjebak pada utopia perjumpaan kembali dengan berbagai skenario pengandaian. Aku menganggapmu sekuel dari episode yang semestinya sudah ditamatkan. Kamu hilang dari ketidakmengertianku dalam mempertahankan hal-hal yang pernah ada.

Namun tak sebaiknya terus begitu.

Atas prasangka baik, kututup pintu kesempatan padamu dan kuharap kita benar benar rela. Mereka bilang kepergian adalah syarat kekosongan untuk hadirnya pengisi. Maka ia tak bisa selamanya disesalkan.

Terselip hembus lega di ujung pelepasan walau kita punya segudang alasan untuk mengulik kenangan. Terselip ragu dalam kuncup rindu sebab kumenanti kehidupan dengan pemahaman yang baru.

Hai Fulan, maaf untuk segalanya, terlebih untuk memutuskan bahwa ini harus dicukupkan.


Harderwijk, 17/04/19





gambar dari sini 





Comments

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini