Posts

Showing posts from April, 2019

Pura Pura (1)

Image
Aku pernah berpura pura menyukaimu dan kubiarkan terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.
Kita tidak pernah terhubung dalam lingkaran yang kita pilih. Namun takdir membawa lingkaran itu menggelinding pada jalan yang beririsan dan di situlah kita dipertemukan. Kamu menyapa dan aku bingung harus bagaimana.
Dari “salam kenal” yang secara sangsi kutafsirkan, aku meragukan bagaimana bisa mengenalmu lebih dari sekadar tahu. Kamu adalah tatapan asing yang kutuliskan dalam guratan kernyit dahi. Kamu muncul dari ketidakmengertianku dalam menyikapi hal-hal yang sama sekali baru.
Namun tak sebaiknya terus begitu.
Atas prasangka baik, kubuka secuil kesempatan padamu dan kuharap kau tidak sekadar bertamu. Mereka bilang kebaikan adalah narasi yang berlaku umum dan tak boleh dimonopoli. Maka tak sebaiknya ku pilah-pilih dari mana ia berasal.
Terselip senyum dalam bincang ramah dan kamu tahu benar bagaimana membuatku hanyut dalam lautan kata. Terselip kehangatan dalam perhatian dan ka…

Pura Pura (2)

Image
Aku berpura-pura melupakanmu dan berharap bisa terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.
Kita tidak pernah menginginkan perpisahan pada jalan yang kita pilih. Namun takdir menuntun kaki kita pada kesadaran bahwa kita tidak lagi melangkah pada tapak yang beriringan. Kamu pergi dan aku bingung harus bagaimana.
Dari “sampai jumpa” yang secara naif kutafsirkan, aku masih terjebak pada utopia perjumpaan kembali dengan berbagai skenario pengandaian. Aku menganggapmu sekuel dari episode yang semestinya sudah ditamatkan. Kamu hilang dari ketidakmengertianku dalam mempertahankan hal-hal yang pernah ada.
Namun tak sebaiknya terus begitu. Atas prasangka baik, kututup pintu kesempatan padamu dan kuharap kita benar benar rela. Mereka bilang kepergian adalah syarat kekosongan untuk hadirnya pengisi. Maka ia tak bisa selamanya disesalkan.
Terselip hembus lega di ujung pelepasan walau kita punya segudang alasan untuk mengulik kenangan. Terselip ragu dalam kuncup rindu sebab kumenanti ke…

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Image
Di salah satu pertemuan kelas game theory kami membahas sebuah soal mengenai peperangan negara yang memperebutkan wilayah kekuasaan pulau (lihat Osborne, 2009. pg 173.4). Masing-masing negara menyiapkan pasukannya untuk dan memikirkan keputusan terbaik bilamana terjadi peperangan. Alih-alih mendengarkan seksama bagaimana professor menjelaskan strategi dan equilibrium dalam game yang disebut Tying Hands game ini, memori saya terlempar kembali ke masa sekolah dasar di kelas Tarikh, di mana saya mendengarkan kisah penaklukan Andalusia yang dipimpin Thariq bin Ziyad. Kiranya penaklukan ini bisa telaah menggunakan perangkat game theory. Mari kita bahas! Sebelum mengalisis lebih jauh, mari kita buat spesifikasi permainan, tentunya dengan simplikasi agar model bisa lebih dipahami. Karena penaklukan Andalusia terlalu kompleks, kita sempitkan game pada perebutan wilayah di Guadalete. Game terdiri dari dua kubu, yakni pasukan dinasti Umayyah yang dipimpin Thariq (T) dan pasukan Visigothic Hispan…