Pulang



Aku telah berjalan cukup lama untuk pada akhirnya tersadarkan, bahwa jarak yang terbentang dariku dan rumah adalah rindu yang terpilin perlahan. Semakin jauh kulanjutkan semakin besar buncah tertahan. Hasrat yang dulu mendorongku pergi kini mengingatkankanku bahwa pulang adalah ujung setiap perjalanan.

Beruntungnya, pulang tak menyaratkan kaki untuk bertolak balik menyusuri jejak yang telah dipijak. Justru perjalanan mengajarkan bahwa ia adalah proses menemukan arah menuju pemahaman baru akan makna kampung halaman. Yang dulu boleh jadi tak lagi menunggu dan yang tertinggal boleh jadi tak lagi layak tinggal.

Aku ingin pulang tapi bukan rumah yang kutemukan. Ketuk pintu bertaut sambut, namun kehangatan bukan seni untuk dipura-purakan. Jajan tersuguh cangkir tersaji, namun bukan gula yang memaniskan sapa. Ratusan pertemuan yang sekadar berujung pertamuan menjadikanku merasa seakan tersesat dalam pencarian.


Pada suatu persinggahan di kabin kayu, kurentangkan kusut kelelahan yang membelit kaki. Aku merebahkan punggung pada tikar jerami sembari bergumam kesal pada musim dingin, bukan soal saljunya yang memberatkan langkah, tapi mengenai ketidakramahannya dalam memangkas siang.

Dari bilik loteng berjendela kaca, kupandang samar langit gelap yang enggan pamerkan gemerlapnya. Selimut kabut tak mengijinkanku tanyakan arah pada bintang. Sepertinya perjalanan esok akan kembali terseok.

Aku ingin pulang, tapi tak kusebut rumah bila bukan kamu yang membuka pintu. Maka biarkan aku terus berjalan dan berjalan, walau tak ada yang benar-benar menantikan.



Antwerp, 30/12/18

Comments

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini