Januari




Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia redupkan langit seakan rumput tak berhak hidup dari kehangatan matahari. Ranting pohon menggigil dengan perasaan bersalah atas ketidakberdayaannya saat melepas dedauan pergi. Burung-burung menerjemahkan dinginnya kehidupan dalam kicau kacau yang kehilangan simponi.

Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Dengan suhu udara yang malas mencapai titik damai, tak kulihat bocah-bocah yang biasa membuat taman ramai. Ia rampas secuil keceriaan dari ayunan yang bosan tak terjuntai. Ia campur sendu dan kemurungan dalam bejana sangrai.

Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia gantikan hujan dengan salju yang karenanya tak bisa kusembunyikan air mata, kecuali pada sosok buram yang tercermin beku di permukaan telaga. Saat itu kusadari bahwa embun punya rupa lain yang enggan kusapa.

Aku telah coba mencari kearifan yang menguatkanku untuk menjemput bulan berganti. Namun, bersama angin yang ketus berhembus, niat baik itu kandas terpangkas. Mungkin Januari terlalu menyakitkan sebagai sebuah kenyataan, yang menyatakan bahwa kita hanya sebuah kemungkinan.

Seandainya kubisa, ingin kulompati waktu. Mengingat betapa pelitnya ia berbagi senja, sudah seperlunya aku lari dari kegelapan yang tubir dari malam-malam. Aku rela tahun tak genap selusin bagian, sebagaimana ia relakan aku yang tak mampu menggenapkan kesempurnaan.


Roeterseiland, 30-01-19



Photo by Aaron Burden on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Terus Melangkah

Masih Sama

Luka