Posts

Showing posts from 2019

Memperjuangkan

Image
Terima kasih untuk pernah ada. Karenamu, setidaknya aku pernah merasakan manisnya memperjuangkan
Biar kuberi tahu lebih dulu. Penghujung sajak ini tak ditutup dengan senoktah titik, melainkan hela nafas yang panjang, atas pemahaman yang belum utuh, atas kesadaran yang baru separuh. Tapi aku berjanji cepat atau lambat kerelaan itu akan tumbuh.
Dulu aku melihatmu sebagai secuil harapan yang hendak mendikte waktu untuk menggiring kita pada sebuah pertemuan. Kamu adalah prasangka baik yang membuatku mengangankan dan menginginkan masa depan. Aku bersama keluguanku bekerjasama untuk meraihnya.
Kamu pernah menjadi alasan atas iktikadku untuk membawa diri yang dipantaskan. Kamu pernah menjadi maksud atas ikhtiarku mengejar pribadi yang dielokkan. Denganmu, aku ingin menjadi lebih dari sekadar pilihan sepadan.
Bagaimana tidak, namamu adalah anggukan yang membuatku tersipu. Kabarmu mendefinisikan pagi dan keberadaanmu merasionalkan pergantian hari. Dari sekian perangai anggun, senyummu bersambut do…

Kisah Enam Kata

Image
Nak, Bapak pernah mengharapkan seseorang membesarkanmu...









Uilenstede, 09/02/2019


Januari

Image
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia redupkan langit seakan rumput tak berhak hidup dari kehangatan matahari. Ranting pohon menggigil dengan perasaan bersalah atas ketidakberdayaannya saat melepas dedauan pergi. Burung-burung menerjemahkan dinginnya kehidupan dalam kicau kacau yang kehilangan simponi.
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Dengan suhu udara yang malas mencapai titik damai, tak kulihat bocah-bocah yang biasa membuat taman ramai. Ia rampas secuil keceriaan dari ayunan yang bosan tak terjuntai. Ia campur sendu dan kemurungan dalam bejana sangrai.
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia gantikan hujan dengan salju yang karenanya tak bisa kusembunyikan air mata, kecuali pada sosok buram yang tercermin beku di permukaan telaga. Saat itu kusadari bahwa embun punya rupa lain yang enggan kusapa.
Aku telah coba mencari kearifan yang menguatkanku untuk menjemput bulan berganti. Namun, bersama angin yang ketus berhembus, niat baik itu k…

Pulang

Image
Aku telah berjalan cukup lama untuk pada akhirnya tersadarkan, bahwa jarak yang terbentang dariku dan rumah adalah rindu yang terpilin perlahan. Semakin jauh kulanjutkan semakin besar buncah tertahan. Hasrat yang dulu mendorongku pergi kini mengingatkankanku bahwa pulang adalah ujung setiap perjalanan.
Beruntungnya, pulang tak menyaratkan kaki untuk bertolak balik menyusuri jejak yang telah dipijak. Justru perjalanan mengajarkan bahwa ia adalah proses menemukan arah menuju pemahaman baru akan makna kampung halaman. Yang dulu boleh jadi tak lagi menunggu dan yang tertinggal boleh jadi tak lagi layak tinggal.

Aku ingin pulang tapi bukan rumah yang kutemukan. Ketuk pintu bertaut sambut, namun kehangatan bukan seni untuk dipura-purakan. Jajan tersuguh cangkir tersaji, namun bukan gula yang memaniskan sapa. Ratusan pertemuan yang sekadar berujung pertamuan menjadikanku merasa seakan tersesat dalam pencarian.

Pada suatu persinggahan di kabin kayu, kurentangkan kusut kelelahan yang membelit kak…