Posts

Showing posts from 2019

Pura Pura (1)

Image
Aku pernah berpura pura menyukaimu dan kubiarkan terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.
Kita tidak pernah terhubung dalam lingkaran yang kita pilih. Namun takdir membawa lingkaran itu menggelinding pada jalan yang beririsan dan di situlah kita dipertemukan. Kamu menyapa dan aku bingung harus bagaimana.
Dari “salam kenal” yang secara sangsi kutafsirkan, aku meragukan bagaimana bisa mengenalmu lebih dari sekadar tahu. Kamu adalah tatapan asing yang kutuliskan dalam guratan kernyit dahi. Kamu muncul dari ketidakmengertianku dalam menyikapi hal-hal yang sama sekali baru.
Namun tak sebaiknya terus begitu.
Atas prasangka baik, kubuka secuil kesempatan padamu dan kuharap kau tidak sekadar bertamu. Mereka bilang kebaikan adalah narasi yang berlaku umum dan tak boleh dimonopoli. Maka tak sebaiknya ku pilah-pilih dari mana ia berasal.
Terselip senyum dalam bincang ramah dan kamu tahu benar bagaimana membuatku hanyut dalam lautan kata. Terselip kehangatan dalam perhatian dan ka…

Pura Pura (2)

Image
Aku berpura-pura melupakanmu dan berharap bisa terus begitu hingga aku lupa bahwa itu adalah kepura-puraan.
Kita tidak pernah menginginkan perpisahan pada jalan yang kita pilih. Namun takdir menuntun kaki kita pada kesadaran bahwa kita tidak lagi melangkah pada tapak yang beriringan. Kamu pergi dan aku bingung harus bagaimana.
Dari “sampai jumpa” yang secara naif kutafsirkan, aku masih terjebak pada utopia perjumpaan kembali dengan berbagai skenario pengandaian. Aku menganggapmu sekuel dari episode yang semestinya sudah ditamatkan. Kamu hilang dari ketidakmengertianku dalam mempertahankan hal-hal yang pernah ada.
Namun tak sebaiknya terus begitu.

Atas prasangka baik, kututup pintu kesempatan padamu dan kuharap kita benar benar rela. Mereka bilang kepergian adalah syarat kekosongan untuk hadirnya pengisi. Maka ia tak bisa selamanya disesalkan.
Terselip hembus lega di ujung pelepasan walau kita punya segudang alasan untuk mengulik kenangan. Terselip ragu dalam kuncup rindu sebab kumenanti ke…

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Image
Di salah satu pertemuan kelas game theory kami membahas sebuah soal mengenai peperangan negara yang memperebutkan wilayah kekuasaan pulau (lihat Osborne, 2009. pg 173.4). Masing-masing negara menyiapkan pasukannya untuk dan memikirkan keputusan terbaik bilamana terjadi peperangan. Alih-alih mendengarkan seksama bagaimana professor menjelaskan strategi dan equilibrium dalam game yang disebut Tying Hands game ini, memori saya terlempar kembali ke masa sekolah dasar di kelas Tarikh, di mana saya mendengarkan kisah penaklukan Andalusia yang dipimpin Thariq bin Ziyad. Kiranya penaklukan ini bisa telaah menggunakan perangkat game theory. Mari kita bahas! Sebelum mengalisis lebih jauh, mari kita buat spesifikasi permainan, tentunya dengan simplikasi agar model bisa lebih dipahami. Karena penaklukan Andalusia terlalu kompleks, kita sempitkan game pada perebutan wilayah di Guadalete. Game terdiri dari dua kubu, yakni pasukan dinasti Umayyah yang dipimpin Thariq (T) dan pasukan Visigothic Hispan…

Memperjuangkan

Image
Terima kasih untuk pernah ada. Karenamu, setidaknya aku pernah merasakan manisnya memperjuangkan
Biar kuberi tahu lebih dulu. Penghujung sajak ini tak ditutup dengan senoktah titik, melainkan hela nafas yang panjang, atas pemahaman yang belum utuh, atas kesadaran yang baru separuh. Tapi aku berjanji cepat atau lambat kerelaan itu akan tumbuh.
Dulu aku melihatmu sebagai secuil harapan yang hendak mendikte waktu untuk menggiring kita pada sebuah pertemuan. Kamu adalah prasangka baik yang membuatku mengangankan dan menginginkan masa depan. Aku bersama keluguanku bekerjasama untuk meraihnya.
Kamu pernah menjadi alasan atas iktikadku untuk membawa diri yang dipantaskan. Kamu pernah menjadi maksud atas ikhtiarku mengejar pribadi yang dielokkan. Denganmu, aku ingin menjadi lebih dari sekadar pilihan sepadan.
Bagaimana tidak, namamu adalah anggukan yang membuatku tersipu. Kabarmu mendefinisikan pagi dan keberadaanmu merasionalkan pergantian hari. Dari sekian perangai anggun, senyummu bersambut do…

Kisah Enam Kata

Image
Nak, Bapak pernah mengharapkan seseorang membesarkanmu...









Uilenstede, 09/02/2019


Januari

Image
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia redupkan langit seakan rumput tak berhak hidup dari kehangatan matahari. Ranting pohon menggigil dengan perasaan bersalah atas ketidakberdayaannya saat melepas dedauan pergi. Burung-burung menerjemahkan dinginnya kehidupan dalam kicau kacau yang kehilangan simponi.
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Dengan suhu udara yang malas mencapai titik damai, tak kulihat bocah-bocah yang biasa membuat taman ramai. Ia rampas secuil keceriaan dari ayunan yang bosan tak terjuntai. Ia campur sendu dan kemurungan dalam bejana sangrai.
Aku tak bisa menolong diriku yang membenci Januari. Ia gantikan hujan dengan salju yang karenanya tak bisa kusembunyikan air mata, kecuali pada sosok buram yang tercermin beku di permukaan telaga. Saat itu kusadari bahwa embun punya rupa lain yang enggan kusapa.
Aku telah coba mencari kearifan yang menguatkanku untuk menjemput bulan berganti. Namun, bersama angin yang ketus berhembus, niat baik itu k…

Pulang

Image
Aku telah berjalan cukup lama untuk pada akhirnya tersadarkan, bahwa jarak yang terbentang dariku dan rumah adalah rindu yang terpilin perlahan. Semakin jauh kulanjutkan semakin besar buncah tertahan. Hasrat yang dulu mendorongku pergi kini mengingatkankanku bahwa pulang adalah ujung setiap perjalanan.
Beruntungnya, pulang tak menyaratkan kaki untuk bertolak balik menyusuri jejak yang telah dipijak. Justru perjalanan mengajarkan bahwa ia adalah proses menemukan arah menuju pemahaman baru akan makna kampung halaman. Yang dulu boleh jadi tak lagi menunggu dan yang tertinggal boleh jadi tak lagi layak tinggal.

Aku ingin pulang tapi bukan rumah yang kutemukan. Ketuk pintu bertaut sambut, namun kehangatan bukan seni untuk dipura-purakan. Jajan tersuguh cangkir tersaji, namun bukan gula yang memaniskan sapa. Ratusan pertemuan yang sekadar berujung pertamuan menjadikanku merasa seakan tersesat dalam pencarian.

Pada suatu persinggahan di kabin kayu, kurentangkan kusut kelelahan yang membelit kak…