Teman Senja



Dalam adegan senja, aku bocah pukul enam sore yang menanti gelap. Dengan kerut ketidakmengertian, kupertanyakan siapa yang lebih dulu hilang, bayanganku atau sisa cahaya di ujung sana.

“Aku sudah datang, mengapa tanyakan yang hilang?”
“Setiap yang datang pasti akan pulang, bukan?”
“Setiap orang bisa mengubah tempat pulangnya.”
“Tidakkah kau rindu rumah?”
“Rumah adalah tempat yang tak bisa kita tinggalkan tanpa kehilangan separuh hati”
“lalu?”
“Kau tahu di mana aku telah menaruh separuh hati itu.”
“Mungkin. Tapi bongkah separuh hanya indah untuk rembulan. Aku berikan penuh.”
“Kalau sudah satu, boleh aku genapkan?”
“…”

 “Hentikan senyummu. Aku malu.”
“Tidak apa-apa, dengan begini aku bisa melihat rona senja dua kali.”
“Kukira kau lebih tertawan pada rembulan.”
“Walau aku harus menunggu dua pekan untuk senyum sabit rembulan, ada lengkung yang lebih kurindukan.”
“…”





Tarempa, 11/05/18

gambar dari sini


Comments

Popular posts from this blog

Dunia yang Sibuk

Doa yang membosankan

SMT: Sebuah Janji (part 2)