Terus Melangkah



Kutanyakan pada kakiku yang sudah tampak lelah, sampai manakah harus melangkah? Jejak-jejak mungil itu telah panjang mengekor, beriringan dengan sepasang yang serupa.

Sepatu mungilmu datang di ujung musim gugur tahun lalu. Sembari menjinjit kau sejajarkan pundak kita untuk sampaikan sepotong pesan ke telingaku. Aku mengangguk dan tersipu, membiarkan wajahku mengalahkan marunnya serakan daun Momiji yang sedang kita injak.

Dari pertemuan itu, kudapati sosok yang membersamai untuk menyemai tapak sepanjang perjalanan. Aku tidak lagi menoleh pada ruang hampa saat sejenak mengusap peluh di dagu. Kuucapkan selamat tinggal pada pohon oak tempat ku biasa menyandarkan punggung dan bergumam.

Sesekali kita mengendus bau keraguan, bukan atas ketidakmampuan menjaga apa yang kita yakini, namun pada ketakutan yang ditawan waktu. Beruntungnya, ketidakberdaayan membuat kita bergantung pada prasangka baik atas doa yang tak pernah putus.

Sekian musim terlewat, didepanku kau pasang senyum yang tak pernah terlihat sebelumnya. Kini giliranmu yang mengangguk dan tersipu. Gelitik usilku Ingin menyandingkan delima di samping pipimu yang merekah.

Terima kasih untuk pernah ada. Karenamu aku temukan separuh wujud syukur untuk digenapkan. Karenamu aku temukan alasan untuk memantaskan. Dan di atas semua itu, terima kasih telah menemani melangkah sejauh ini, dan seterusnya.



Serengseng sawah, 25/03/18

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Doa yang membosankan

Dunia yang Sibuk