Doa yang membosankan



Aku penasaran bagaimana Tuhan membalas jutaan doa yang dikirimkan hamba-Nya setiap waktu.

Jika doa adalah sekuncup pinta, akankah Ia siramkan kemurahan agar mereka tercukupi dengan segala keinginan. 
Jika doa adalah sejumput tanya, akankah Ia taburkan kebijaksanaan agar mereka terpuas dari ketidakmengertian.

Mereka bilang doa menjembatani getar ruhani antara abdi dan ilahi, bahwa jarak antara angan dan kejadian terjeda sejauh kening dan tempat bersujud. Maka sudah sepatutnya kupasrahkan seluruh ketidakberdayaan kepada sang pemilik kuasa.

Jika doa adalah sejuntai harap, akankah Ia salurkan kasih sayang untuk lengkapi apa yang sedang ditambat. 
Jika doa adalah setangkup syukur, akankah ia guyurkan nikmat berkali lipat atas apa yang telah didapat.

Mereka bilang doa adalah alat yang menerjemahkan bahasa pengandaian pada ukir kenyataan. Boleh jadi ijabah tak serupa dengan hajat, namun tetap dipahat dalam wujud terbaik. Maka tak seharusnya kuajukan tuntutan yang mengundang kekecewaan.

***

Tidakkah Tuhan merasa heran dengan doaku yang terus berulang? Di antara tumpukan berkas lembaran doa, berkali-kali Ia dapati secarik surat dengan rapal permohonan yang sama.

Saat malam habiskan gelapnya, doaku selalu berbaris mengantri menjemput subuh. Semoga Tuhan tidak bosan, sebab ada nama yang senantiasa kubisikkan.


Menteng, 18/02/18



gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Dunia yang Sibuk

SMT: Sebuah Janji (part 2)