Rindu Kemarin Sore



Jika angin mengetuk jendela kamarmu semalam, jangan khawatir. Itu rinduku kemarin sore. Jika langit menyapamu hangat pagi ini, jangan abaikan. Itu doaku sebelum fajar.

***

Aku menghitung detik yang terlewat, kemudian menyesali hari yang berganti tanpa ada kemajuan. sayangnya waktu tak bisa disalahkan. Ia bergerak dengan jalannya yang konstan dan memaksaku menyadari bahwa telah begitu lama aku menunggu; atau membuatmu menunggu.

Barangkali mereka benar, aku pengecut yang hanya berdalih di balik alasan ‘saat yang tepat’. Aku menatap esok sebagaimana kemarin. Masa depan tak pernah menjanjikan apa-apa, namun aku berharap layaknya tanganku akan merengkuhnya. Atau barangkali, telah ada yang menuliskannya.

Di antara jarak yang direntangkan untuk menjaga, rindu marun jatuh dari tangkainya. Sudikah kamu lembut memungutnya? Di jeda sapa yang ditangguhkan untuk melindungi, doa menjembatani ketulusan hati. Adakah kamu di seberang sana sedang menanti?

Entah sampai kapan aku membiarkan kita berdiri di tempat masing-masing lengkap dengan ketidakmengertiannya. Sepetak ruang di antara kita akan terisi ekspektasi-ekspektasi yang mungkin nantinya akan terpenuhi; atau malah menyakiti.

Tak terlihat bukan berarti hilang. Tak bersuara bukan berarti diam. Tak beranjak bukan berarti berhenti. Aku menggapaimu dengan caraku sendiri; dan barangkali kamu tak perlu tahu.


Yangoon, 28/01/18





gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

SMT: Sebuah Janji (part 2)

Dunia yang Sibuk

Hidung Mungil