Memeluk Rindu



Barangkali khilaf membawaku lupa bahwa Tuhan yang memainkan lakon semua bidak. Intervensi manusiawi tak bisa menyangkal bahwa Ia sang pembolak-balik hati. Maka ke mana lagi mesti pergi kalau bukan kembali.

Sepertinya ilusi menyeretku pada gawal bahwa aku mampu berbuat sesuatu. Sementara semesta kejadian telah digoreskan pada kitab yang terpelihara. Aku tersesat pada peta dengan legenda yang salah terbaca.

Pergi sejatinya bukan soal tergesa beranjak, apalagi berlari. Ketenangan diri didapat penerimaan atas ketidakmengertian pada keadilan langit.

Sembari menghela nafas, sisipkan perjalanan dengan prasangka baik-Nya. Tapak melangkah terbuka dari cara menekuk lutut dan mendekap subuh.

Aku lelah dengan kebingungan mencari arah. Di antara wajah dan tempat berpasrah, kuharap bertemu pengertian dari tanya yang sedari dulu kudesah.

Sedekap lengan di ulu hati, harap dipanjat enggan dinanti.

Tersungkur kening di sudut sujud, biarlah sampai niat dimaksud.

Teriring air menyejuk dagu, beginilah aku memeluk rindu.




cawang, 9/12/17


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

SMT: Sebuah Janji (part 2)

Dunia yang Sibuk

Hidung Mungil