Memanjat Hujan



Gemuruh mendung mengabarkan khalayak untuk diam sejenak. Tirau kelabu dijuntaikan, separuh cahaya tertawan. Satu demi satu, milyaran butir diturunkan. Di bawah kanopi, aku berteduh dan merenungi nasehatmu.

Terima kasih telah ingatkanku untuk tidak membenci hujan.

Sebab hujan bukan derap dingin yang menyambut gigil. Ia membelai bumi dan membawa janji kehidupan. Daun-daun yang bernafas memanggilnya bertamu, untuk kemudian sampaikan salam kepada awan saat ia kembali.

Langit merajut hujan menjadi selimut. Ujungnya menjangkau jemari kaki yang lusuh. Biarkan hujan memeluk, biarkan ia nyanyikan lagu pengantar tidur. Hujan adalah teman yang menuntun kita pada mimpi.

Tetes hujan adalah karunia yang tumpah dari telaga surga. Dibawanya kebermanfaatan bagi mereka yang mau menerima. Dari sana tumbuhlah penghijauan lengkap dengan buah kebijaksanaan.

Hujan mengajarkan kita cara berdamai, sebagaimana ia menjelma kubangan, sebagaimana ia merayap di jalanan. Biarkan hujan mengaburkan air mata, biarkan ia mengusap perih dari luka yang menganga. Keruh hilang dari setiap jengkal yang terbasuh.

Hujan yang kita lihat hari ini sejatinya air yang mengguyur kita kemarin. Ia memahami perputaran roda kehidupan dengan segala bentuknya. Di satu waktu ia berhembus bersama angin, di lain waktu ia diam membatu.

Terima kasih telah ingatkanku untuk panjatkan doa ketika hujan.

Hujan adalah air yang dijatuhkan bersama rahmat dan tautan mustajab. Hujan menjadi tangga penyambung harapan menuju langit. Maka panjatkanlah. Panjatkan sampai tak ada alasan untuk tertolak.

Di bawah guyur hujan, aku berbisik, aku mengetuk pintu.



Senapelan, 3/11/17


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Dunia yang Sibuk

Di Seberang Peron

Hidung Mungil