Posts

Showing posts from September, 2017

Gincu

Image
Aku bingung bagaimana mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Haruskah kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu?
Baiklah, menjaga memang bukan tugas satu pihak. Namun sepatutnya kita mengenal kebijaksanaan lokal atas apa yang dianggap proporsional. Di sudut kota orang biasa mendendangkannya: yang sedang-sedang saja.
Terserah mereka sebut merah anggur atau jingga senja, yang layak dihargai dari bibir adalah ucap kejujuran. Entah apapun yang terpoles pada lesung pipi itu, yang perlu diperhatikan adalah ekspresi ketulusan.
Wajahmu, wajahku, wajahnya, semua diukir dalam bentuk masing-masing untuk saling mengenal. Maka tak perlu berlebih menabur kapur.
Mukaku, mukamu, mukanya, semua terpasang untuk tersungkur. Dahi tertunduk dan hidung mencium bau tanah. Lantas langit apa yang perlu ditatap silau?
***
Teruntuk kamu, terima kasih untuk menjadi apa adanya, saat sekelilingmu b…