Kisah Kita



Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.

Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.

Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.

Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.

Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.

Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.

Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbentuk garis. Pada pemberhentian ini, telah tampak sketsa wajah kita yang saling berhadapan. Barangkali sudah saatnya untuk memberi warna.

Antara kamu dan diamku, kuhimpun semua keberanian yang tertimbun ragu, hingga kutekadkan untuk maju.

Antara aku dan kediamanmu, bingung kumenyusun diksi untuk yakinkan bapakmu, agar ia relakan kita bersatu.



Salemba, 12/06/17


gambar dari sini

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dunia yang Sibuk

Di Seberang Peron

Hidung Mungil