Hidung Mungil



Aku merindukan bibir tipismu, saat kau jepitkan di antara gigi taring. Terlepas itu kebiasanmu untuk membalas kata yang salah ucap, aku menikmati senyum yang terkembang tanpa sengaja karenanya.

Aku merindukan hidung mungilmu, yang biasa kau garuk walau tak merasa gatal. Dengan begitu kau hilangkan kekakuan sekaligus tanda yang memaksaku untuk memulai percakapan.

Tak perlu kau hitung detik yang berlalu untuk tanyakan kapan aku merindu, sebab waktuku terhempit sesak dengan kepergianmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan sapa yang kau lempar dengan canggung, saat aku menoleh pada tatapanmu yang hilang, saat aku mencari rona malu yang kau sembunyikan.

Aku merindukan gerutumu pada langit yang terus turunkan hujan, saat aku berharap kita bisa berteduh seharian, saat aku bisa tawarkan jaket untukmu yang kedinginan.

Tak perlu kau hitung depa yang terlewat untuk tanyakan di mana aku merindu, sebab jarak tak pernah menjamin aku bisa meraihmu.

Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.

Aku merindukan kernyit dahimu, beserta ekspresi penasaran yang membuatku rela menyimpan jawaban selama mungkin atas keingintahuanmu. Sementara aku mengalihkan pandangan ke sudut langit-langit


Aku merindukan jari-jemarimu, saat mereka mainkan pena dengan lincahnya. Adakah aku dalam benakmu saat kau mulai merasa bosan?


kapuk, 04/03/17







gambar dari sini
terinspirasi dari Small hands, keaton henson

Comments

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini