Posts

Showing posts from January, 2017

Paku

Image
Barangkali harus kau tebar paku di depan kamar hatimu. Agar tak ada lagi yang berani datang dengan langkah ragu. Sebab yang kau butuhkan bukan sekadar pengetuk pintu.
Tak setiap orang mengerti bagaimana menafsirkan isyarat penolakan. Maka berhentilah bersikap terlalu baik pada semua. Tentu kau tak mau menebang pohon ketulusan yang tumbuh dari benih kesalahpahaman.
Jangan lantunkan kesepianmu pada puisi yang menggema di telinga para penunggu malam. Karena sajak akan bersambut mencari penyejuk bagi jiwa yang sendiri. Katahuilah bahwa saat petang bukan hanya bulan yang dirindukan.
dan satu pintaku yang terakhir…
Tatap aku saat kita berbicara. Dari bola mata, kita bisa menulis dan membaca. Maka sampaikan tanda bila jendelamu terbuka. Aku tak mau menginjak paku dengan penuh luka.

larangan, 14/01/17

gambar dari sini

Di Seberang Peron

Image
Kemarin aku melihatmu di seberang peron. Kau sandarkan pundakmu pada dinding yang berlapiskan tegel tua. Aku terbiasa dengan cara kakimu mengetuk lantai untuk mengusir bosan. Kita sama-sama melakukan hal yang kita benci: menunggu.
Sayangnya hal yang kita tunggu sama sekali berbeda. Kau menantikan kedatangan kereta yang telah terjadwal di papan informasi. Sedangkan yang kunanti bukanlah hal yang pasti.
Bibirku terbuka separuh sapa ketika kereta datang menghalangi pandanganku dengan pesan ‘sampai jumpa’. Angin yang berhembus bersama kepergian peti besi itu membawa kesepian yang dingin. Tak sebersit mata kau tengokkan pada  aku yang hampir menggigil.
Kemarin aku melihatmu di stasiun kecil itu. Begitupula dengan kemarin lusa dan sebelumnya. Entah sejak kapan, menyaksikan berangkat dan pulangmu menjadi rutinitasku. Biarkan ini menjadi secuil candu kebahagiaan sebelum menjemput siang dan malam.
Pagi tak ubahnya seperti pagi-pagi lain, tapi aku masih saja sulit membedakan wajahmu dengan salam h…