Posts

Showing posts from 2017

Memanjat Hujan

Image
Gemuruh mendung mengabarkan khalayak untuk diam sejenak. Tirau kelabu dijuntaikan, separuh cahaya tertawan. Satu demi satu, milyaran butir diturunkan. Di bawah kanopi, aku berteduh dan merenungi nasehatmu.
Terima kasih telah ingatkanku untuk tidak membenci hujan.

Sebab hujan bukan derap dingin yang menyambut gigil. Ia membelai bumi dan membawa janji kehidupan. Daun-daun yang bernafas memanggilnya bertamu, untuk kemudian sampaikan salam kepada awan saat ia kembali.
Langit merajut hujan menjadi selimut. Ujungnya menjangkau jemari kaki yang lusuh. Biarkan hujan memeluk, biarkan ia nyanyikan lagu pengantar tidur. Hujan adalah teman yang menuntun kita pada mimpi.
Tetes hujan adalah karunia yang tumpah dari telaga surga. Dibawanya kebermanfaatan bagi mereka yang mau menerima. Dari sana tumbuhlah penghijauan lengkap dengan buah kebijaksanaan.
Hujan mengajarkan kita cara berdamai, sebagaimana ia menjelma kubangan, sebagaimana ia merayap di jalanan. Biarkan hujan mengaburkan air mata, biarkan ia …

Muak

Image
Aku muak denganmu dan kau harus tau.
Aku muak dengan perasaan carut-marut saat menemukan wajahmu di tengah kerumunan. Sapa hangat mentari menjadi kesia-siaan dengan tawaran menu sarapanmu yang tak jauh-jauh dari kecemasan dan kegelisahan. Berhentilah mengumbar senyum kepalsuan yang syarat akan mau dan maksud.
Aku muak dengan tatapan rendah itu. Kita menginjak tanah yang sama dan berdarah dengan merah yang serupa. Strata sosial hanya tangga imaji yang dibuat agar kaum akar rumput tak beranjak dari dasar kehinaan. Ingin kupaksa kau menggunakan kacamata kuda secara vertikal agar punya sudut pandang manusiawi.
Aku muak dengan nyalimu yang kopong seperti kardus bekas. Kau hanya kucing jalanan di balik panggung tempatmu biasa memamerkan topeng singa. Pertunjukanmu telah usai dan penonton tak sabar menunggumu menutup korden. Kau tak perlu umbar kisah berburu sebab sebab parasit tak dihitung dalam kelompok pemangsa.
Aku muak dengan kuliah nirfaedah dari bibir berbusa itu. Aku tidak sedang dalam w…

Gincu

Image
Aku bingung bagaimana mesti memandang potret narsisme di dinding dinding generasi portal. Satu mata berkedip menjaring perhatian dan satu lagi melotot “lihat apa kau!”. Haruskah kukunci kelopak setiap kali bertemu topeng penuh gincu?
Baiklah, menjaga memang bukan tugas satu pihak. Namun sepatutnya kita mengenal kebijaksanaan lokal atas apa yang dianggap proporsional. Di sudut kota orang biasa mendendangkannya: yang sedang-sedang saja.
Terserah mereka sebut merah anggur atau jingga senja, yang layak dihargai dari bibir adalah ucap kejujuran. Entah apapun yang terpoles pada lesung pipi itu, yang perlu diperhatikan adalah ekspresi ketulusan.
Wajahmu, wajahku, wajahnya, semua diukir dalam bentuk masing-masing untuk saling mengenal. Maka tak perlu berlebih menabur kapur.
Mukaku, mukamu, mukanya, semua terpasang untuk tersungkur. Dahi tertunduk dan hidung mencium bau tanah. Lantas langit apa yang perlu ditatap silau?
***
Teruntuk kamu, terima kasih untuk menjadi apa adanya, saat sekelilingmu b…

Menyapa Manggarai Pagi

Image
Aku sudah terjaga saat malam enggan pergi. Kucari secercah cahaya untuk sekadar menatap wajah polos itu. Kau masih terpejam.
Kecup sederhana pada kening yang mungkin tak kau sadari menjadi salam perpisahan, serta ungkap penyesalan, karena kita terpaksa berbagi potongan mentari yang berbeda.
Menyapa Manggarai pagi, gerbong kereta membawa mereka meniti jalur rejeki. Dijejalkannya tulang punggung pada himpitan harapan, bahwa selama masih dapat menjejakkan kaki, mereka tak akan berhenti.
Aku berada di sela-sela ketiak dari lengan yang menggantungkan asa. Setel pakaian yang disetrika buru-buru itu kini harus berbagi kusut. Tak peduli warna kerah baju, di kubik besi ini kita mengadu nasib yang sama.
Menggugah keramaian ibu kota, beton-beton penyangga ekonomi menjadi saksi, bahwa mereka menggulirkan roda penghidupan dengan jerih masing-masing. Satu memikul satu menjinjing, mereka sama-sama mengangkut nominal.
Antara peluh keringat dan sesuap nasi, terselip niat kerja ilahi. Dapur boleh mengepul …

Tuliskan

Image
Aku telah lama pergi dan banyak yang terjadi. Memberitahumu aku telah kembali adalah satu hal. Namun menceritakan apa yang telah terlewati adalah lain hal.
Aku bisu dan kamu tak bisa diam. Lidahku kelu tapi kupingmu gatal. “Tuliskan saja kalau begitu”, katamu.
Di antara jeda pertemuan ini, hanya kamu yang tak pernah menyerah untuk tanyakan kabar. Hanya kamu yang benar-benar memaknai ‘sampai jumpa’.
Kau pernah ajak aku bicara dengan cerita hujan dan sekarang kau minta aku kisahkan dongeng senja. “Kisahkan layaknya itu cahaya terakhir sebelum malam menelan dingin”, tambahmu.
Aku bukan pujangga dan kau jelas tahu meracik bait roman bukan bakatku. “Kamu tak lupa bagaimana cara menggunakan pena, bukan?”, paksamu.
Terima kasih telah kembalikan aku pada kertas dan tinta. Terima kasih untuk sadarkan aku bahwa tulisan bisa menebar kehangatan langit. Serta terima kasih telah menjadi pembaca yang baik.
Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang tak bisa kutuliskan namun mestinya kuungkapkan. Suatu s…

Kisah Kita

Image
Antara Bogor dan kantor, keberadaanmu adalah alasan duniaku hanya selebar daun kelor, sebab dalam hitung temu tak ada ejaan jemu.
Antara Tangerang dan perasaan yang terulang, hati yang jatuh selalu membuat gaduh, tak terkecuali bagi aku yang pernah menolak luluh.
Seringai malu menyemarai setiap kali kuingat betapa lugunya kita waktu itu. Kau tunjukkan rona senja namun yang kuperhatikan rekah merah yang lain. Kau lemparkan ‘sampai jumpa’ dan aku berharap malam terlipat hingga esok.
Antara Bekasi dan wajahmu yang pasi, kau sembunyikan kekecewaan seperti kura-kura yang meringkuk di balik kubangan.
Antara Bandung dan mendung, kau tinggalkan dua hal yang kubenci setelah hujan: genangan dan kenangan.
Sesekali kisah kita terkungkung sendu. Tapi kuputuskan untuk tak menyerah padamu. Jika kau perhatikan, lengkung senyum tak pernah lurus. Kebahagiaan seringkali dimaknai setelah kita merangkak pupus.
Aku sang pendongeng, ceritakan tapak-tapakyang pernah kita lalui. Dari satu titik ke titik lain terbe…

Di Sela-sela Hujan

Image
Kau tinggalkan aku dengan hujan dan jendela, kombinasi yang tepat untuk menyangga sendu yang bertumpu di antara tangan dan dagu. Penat terasa pada kehidupanku yang terbingkai bilah kayu persegi, sementara naluriku menyeret paksa untuk pergi.
Yang kuusap bukan raut yang wajah terlanjur sembab, tapi bilah kaca yang buram melembab. Dari sudut kamar ini, pandanganku menyapu taman yang terselimut basah. Di situ air mengalir untuk hembus kehidupan, bukan bersumber dari kepedihan.
Jika kebahagiaan tak bisa kucari di dalam sesaknya hati, akankah ruang di luar sana memberi kesempatan yang lebih berarti? Angin dingin enggan membawa pertanyaanku, kuputuskan untuk melangkah keluar demi sebuah jawab.
Apa yang kucari di sela-sela hujan adalah kebijaksanaan yang merampungkan bait-bait sajakku, yang menerjemahkan sepi dari riuhnya guntur, yang menunjukkan cercah cahaya dibalik mendung.
Sayangnya langit hanya tandakan isyarat, tanpa beri petunjuk akurat. Lantas bagaimana aku tahu hujan mana yang bisa janj…

Hidung Mungil

Image
Aku merindukan bibir tipismu, saat kau jepitkan di antara gigi taring. Terlepas itu kebiasanmu untuk membalas kata yang salah ucap, aku menikmati senyum yang terkembang tanpa sengaja karenanya.
Aku merindukan hidung mungilmu, yang biasa kau garuk walau tak merasa gatal. Dengan begitu kau hilangkan kekakuan sekaligus tanda yang memaksaku untuk memulai percakapan.
Tak perlu kau hitung detik yang berlalu untuk tanyakan kapan aku merindu, sebab waktuku terhempit sesak dengan kepergianmu.
Tak perlu kau hiraukan. Biarkan begini adanya.
Aku merindukan sapa yang kau lempar dengan canggung, saat aku menoleh pada tatapanmu yang hilang, saat aku mencari rona malu yang kau sembunyikan.
Aku merindukan gerutumu pada langit yang terus turunkan hujan, saat aku berharap kita bisa berteduh seharian, saat aku bisa tawarkan peluk untukmu yang kedinginan.
Tak perlu kau hitung depa yang terlewat untuk tanyakan di mana aku merindu, sebab jarak tak pernah menjamin aku bisa meraihmu.
Tak perlu kau hiraukan. Biarkan …

Di Penghujung Januari

Image
Januari lekas pergi, namun kita masih di sini.
Barangkali aku, yang menikmati rintik air kala berteduh atau diam diam berharap agar hujan terlambat reda. Sementara kau nyalakan kehangatan dari kisah lucu masa kecilmu yang suka bermain di kubangan.
Senja telah beranjak, namun kita enggan bergerak.
Barangkali kamu, yang gugup menggariskan rasi atau berbisik pada awan untuk menelan satu bintang. Sementara aku dengan lugu tawarkan rembulan dari bilah cermin kecil yang kau pandang ragu.
Kau tersenyum. Aku juga. Lalu kita menafsirkannya dengan harapan masing-masing.
Entah sudah berapa lama, kita mulai lihai mencari alasan untuk bertemu. Sapa yang dulu terselip di sekat bilik ruang kerja, kini berbuah percakapan yang berbalas canda. Waktu menggerus jarak dan kesabaran mengusir canggung.
Aku dan kau, kini terpaut jeda sebilah meja kayu, yang tak lebih panjang dari sejulur bahu. Sayangnya tangan kita masih terlipat – menyembunyikan perasaan rapat-rapat.
Saat mata kita bertemu pada sekelebat tatapan…

Paku

Image
Barangkali harus kau tebar paku di depan kamar hatimu. Agar tak ada lagi yang berani datang dengan langkah ragu. Sebab yang kau butuhkan bukan sekadar pengetuk pintu.
Tak setiap orang mengerti bagaimana menafsirkan isyarat penolakan. Maka berhentilah bersikap terlalu baik pada semua. Tentu kau tak mau menebang pohon ketulusan yang tumbuh dari benih kesalahpahaman.
Jangan lantunkan kesepianmu pada puisi yang menggema di telinga para penunggu malam. Karena sajak akan bersambut mencari penyejuk bagi jiwa yang sendiri. Katahuilah bahwa saat petang bukan hanya bulan yang dirindukan.
dan satu pintaku yang terakhir…
Tatap aku saat kita berbicara. Dari bola mata, kita bisa menulis dan membaca. Maka sampaikan tanda bila jendelamu terbuka. Aku tak mau menginjak paku dengan penuh luka.

larangan, 14/01/17

gambar dari sini

Di Seberang Peron

Image
Kemarin aku melihatmu di seberang peron. Kau sandarkan pundakmu pada dinding yang berlapiskan tegel tua. Aku terbiasa dengan cara kakimu mengetuk lantai untuk mengusir bosan. Kita sama-sama melakukan hal yang kita benci: menunggu.
Sayangnya hal yang kita tunggu sama sekali berbeda. Kau menantikan kedatangan kereta yang telah terjadwal di papan informasi. Sedangkan yang kunanti bukanlah hal yang pasti.
Bibirku terbuka separuh sapa ketika kereta datang menghalangi pandanganku dengan pesan ‘sampai jumpa’. Angin yang berhembus bersama kepergian peti besi itu membawa kesepian yang dingin. Tak sebersit mata kau tengokkan pada  aku yang hampir menggigil.
Kemarin aku melihatmu di stasiun kecil itu. Begitupula dengan kemarin lusa dan sebelumnya. Entah sejak kapan, menyaksikan berangkat dan pulangmu menjadi rutinitasku. Biarkan ini menjadi secuil candu kebahagiaan sebelum menjemput siang dan malam.
Pagi tak ubahnya seperti pagi-pagi lain, tapi aku masih saja sulit membedakan wajahmu dengan salam h…