Belajar dari dan di Jepang

Semalam saya mendapatkan email dari kepala program studi untuk memberikan tulisan mengenai pengalaman selama pertukaran pelajar beserta nilai-nilai yang saya dapat. Sudah lebih dari setahun saya menyelesaikan program tersebut. Saya perlu mencungkil kembali ingatan-ingatan saya untuk kemudian menuangkannya dalam rangkaian kalimat berikut:


Keputusan untuk mengikuti program pertukaran pelajar bukan hal mudah. Keterbatasan pendanaan, perbedayaan budaya, dan risiko tertinggal kuliah juga berbagai aktivitas kampus membuat kaki saya gemetaran untuk melangkah keluar negeri. Akan tetapi setelah menjalani hiruk pikuk kehidupan di negeri matahari terbit selama 5 bulan penuh, saya merasa telah membuat suatu keputusan terbaik. Dengan doa orang tua dan dukungan teman-teman, saya meneguhkan hati untuk mengikuti petuah merantau Asy-Syafi’i “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.”

Di awal kedatangan, Jepang benar-benar memberikan kesan yang menawan. Seperti yang digambarkan di komik atau anime, hari-hari pertama di kampus saya ditemani bunga sakura yang bermekaran. Saya jadi semakin mengerti mengapa budaya Jepang begitu peka pergantian musim yang tercermin di lukisan, puisi, kaligrafi, dan lagu. Tidak terkecuali pada perayaan-perayaan yang juga saya ikuti seperti hanami (melihat bunga), hanabi (kembang api), kanamara (festival kesuburan), dan tanabata (festival bintang).

Kehidupan selama di sana memberikan pelajaran besar bahwa paradigma dikotomi modernitas dan tradisional tidak selalu berlaku. Jepang berhasil memeluk keduanya dengan harmonis; di satu sisi menjadi negara yang terdepan dalam hal teknologi dan tren gaya hidup, di sisi lain mampu menjaga pernak-pernik budayanya. Bukan hanya saya melahap banyak ilmu saat mengikuti seminar dari raksasa industri layaknya Sony dan Komatsu, saya juga hanyut dalam diskusi mengenai sadou (upacara minum teh) dan kabuki (seni teater) di kelas budaya. Begitu meriah bagi saya saat mengamati gemerlap kehidupan di Tokyo yang mengundang dunia lewat J-Pop. Begitu syahdu saya rasakan kala menghayati kesakralan kuil-kuil di Kyoto beserta dengan upacaranya.  

Tentu saja tidak segalanya berjalan mudah. Adaptasi menjadi permasalahan utama bila menginjak rumput di seberang pagar, mulai dari urusan lidah sampai mencari tempat yang pas untuk menggelar sajadah. Begitu pula dalam berbahasa, mulai dari awalnya hanya tahu kata kimochi (perasaan) hingga bisa menulis berbagai huruf kanji. Kesabaran dan keinginan yang kuat untuk berubah mempercepat penyesuaian walaupun sulit. Setidaknya sekarang saya sendiri bisa membuat onigiri dan okonomiyaki.

Menjadi minoritas memberikan banyak pelajaran bagi saya yang selama ini hidup dengan lingkungan  cenderung homogen. Belajar untuk menerima dan diterima adalah hal mutlak. Namun bukan berarti melunturkan pendiiran yang kokoh. Karenanya belajar untuk menolak dan ditolak tidak bisa diabaikan. Misalkan dalam pergaulan, saya harus pandai menempatkan diri dalam acara nomikkai (minum) bersama teman-teman kampus. Saya harus jeli mengatur waktu di sela-sela kesibukan kampus untuk melaksanakan kewajiban.

Menghadapi hal-hal itu, bagi saya yang berkepribadian introvert, saya beruntung bisa mendapatkan lingkungan yang tepat. Walaupun jarak 5000 km memisahkan saya dengan tanah air, saya tidak merasa sendiri. Saya memiliki orang tua angkat (keluarga Tsucia) yang baik hati. Saya bisa menumpang berbuka di komunitas muslim turki, Pakistan, dan Indonesia. Saya turut serta dalam acara futsal yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia. Saya juga diberi kesempatan untuk memandu acara semarak Ramadhan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). 

Teruntuk adik-adik, saya tidak ingin menggembor-gemborkan rayuan untuk mengikuti pertukaran pelajar, namun saya ingatkan bahwa menjawab tantangan adalah langkah jagoan. Bagi kalian yang masih setengah hati, barangkali bisa membaca penuh isi syair Asy-Syafi’i. “Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran”

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu