Posts

Showing posts from August, 2016

Belajar dari dan di Jepang

Semalam saya mendapatkan email dari kepala program studi untuk memberikan tulisan mengenai pengalaman selama pertukaran pelajar beserta nilai-nilai yang saya dapat. Sudah lebih dari setahun saya menyelesaikan program tersebut. Saya perlu mencungkil kembali ingatan-ingatan saya untuk kemudian menuangkannya dalam rangkaian kalimat berikut: Keputusan untuk mengikuti program pertukaran pelajar bukan hal mudah. Keterbatasan pendanaan, perbedayaan budaya, dan risiko tertinggal kuliah juga berbagai aktivitas kampus membuat kaki saya gemetaran untuk melangkah keluar negeri. Akan tetapi setelah menjalani hiruk pikuk kehidupan di negeri matahari terbit selama 5 bulan penuh, saya merasa telah membuat suatu keputusan terbaik. Dengan doa orang tua dan dukungan teman-teman, saya meneguhkan hati untuk mengikuti petuah merantau Asy-Syafi’i “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.” Di awal kedatangan, Jepang benar-benar memberikan kesan yang menawan. Seperti yang digambarkan di kom

Yang Muda Yang Berinvestasi

Sering kali orangorang di sekeliling kita menasihati untuk rajin menabung guna membekali hidup di masa tua. Dalam nasihat tersebut, terdapat paradigma yang kurang tepat terkait dengan pengelolaan aset. Memang benar penghematan adalah cara terbaik untuk menginjak rem konsumsi yang terkadang sulit terkendali. Namun, alokasi penghematan itu seharusnya diletakkan pada keranjang yang tepat, yakni investasi.   Menabung sama halnya dengan membiarkan nilai aset tergerus di dalam brankas perbankan. Alasan pertama karena harga kebutuhan terus naik sepanjang waktu dan yang kedua karena kita punya kesempatan lain menggunakan aset tersebut bekerja untuk kita. Jika menabung hanya ditujukan untuk menekan laju konsumsi, nasihat tersebut mestinya ditujukan untuk orang tua, bukan para generasi muda yang produktif. Masa muda adalah saat yang tepat untuk memulai investasi. Setelah memenuhi kebutuhan pribadi dan rohani, hasil dari bekerja bisa disisihkan untuk diputar kembali. Inilah yan

Bohong

Image
Mulutmu mengucap tapi hatimu berbisik. Kau bersuara tapi aku tak mendengar. Kau duduk sempurna anggun, tapi nyatanya dirimu tak di situ. Jika kita teruskan percakapan ini sampai esok, aku hanya akan mempertanyakan tatapan hampamu.  Lewat kerut bibir itu, bisa kubaca getir ketidakjujuran. Tapi aku tidak menginginkan permintaan maaf, sebab bukan aku yang kau dustai. K au akan sampai pada batas bila terus membohongi diri. Tengok saja dirimu pada pantulan cermin. Tanyakan pada bola matamu kepada siapa ia jatuhkan perhatian. Yakinkan aku bahwa selama ini bukan kaca mata kuda yang kau pakai, bahwa kau melihat bukan dengan satu-satunya pilihan di hadapanmu.  Belajarlah dari air matamu yang lebih mampu berkata. Setiap butir adalah perwakilan dari ketulusan sekaligus carut marut-nya hati. Ia menetes tanpa menghianati kodratnya untuk jatuh pada tarikan bumi. Ia sampaikan pesan bahwa kau tidak bisa terus bersembunyi di balik “baik-baik saja”-mu. Menghadapi dunia yang buk