Posts

Showing posts from May, 2016

Terima Kasih atas Ketidakpedulianmu

Image
Kusampaikan terima kasih atas ketidakpedulianmu.
Terima kasih untuk menjadikan aku sepatah sapa yang hanya menggantung di langit-langit kelas. Menjadikan aku gelombang panggilan yang merambat melas. Menjadikan aku sepucuk surat yang tak disambut balas.
Karena dengan begitu, sedikit demi sedikit aku bisa melupa. Membungkam rasa yang terlalu banyak bicara. Menghapus jejak yang pernah terinjak sekaligus mencari langkah lain untuk beranjak.
Itukah maksudmu?
Hati tak pernah lebih besar dari segenggam tangan, namun rasa didalamnya bukan kerikil untuk dicungkil. Sekali diambil kau akan lihat lubang besar yang menganga, lebih dari cukup untuk menelan egomu yang menggunung.
Kau bisa bedakan antara satu dan nol. Walaupun semesta hidup tidak berjalan dengan sandi binerik. Walaupun hati tak memiliki kutub maupun sudut. Setidaknya kau bisa jelaskan jarak yang merentang antara iya dan tidak.
Namun, kau pilih bisu.

Sekali lagi terima kasih. Diammu membuatku merasa penting. Membuatku merasa memiliki temp…

Embun Pagi Ini

Image
Azan berkumandang. Tapi di luar sana. Ayam berkokok kencang. Tapi tak kudengar. Beton kamarku cukup tebal untuk membungkam keramaian. Atau kupingku yang terlalu bebal menerjemahkan gelombang suara. Aku menggigil saat semua memanggil.
Aku bangun. Tentu saja. Seperti biasanya. Sekadar mematikan alarm handphone yang telah berdering untuk ketigakalinya.
Baiklah, pada akhirnya aku harus bangun. Kaki tergeret beranjak, tapi tak sampai di rumah-Nya. Cukuplah menjejak jengkal di sepetak lapak untuk bersujud. Sekadar menggenapi satu dari lima yang kelak dituntut.
Takbir dan salam tertangkup pada kesadaran tipis, bahwa jungkir balik telah berakhir. Segala di antaranya memekat gelap. Aku bak pengarung angkasa yang bergerak melalui lubang cacing, menembus ruang hampa yang menghubungkan satu titik dengan titik lain.
Jangan tanya tuma’ninah, aku menggelar sajadah hanya untuk kemudian bisa merebah. Yang khusyuk hanya mata, yang lurus hanya telunjuk. Segalanya habis tertelan kantuk. Entah bagaimana aku b…

Ingin Melupa

Image
Bagaimana kubisa melupa? Bayangmu telah kubuang tapi kau tak pernah benar-benar hilang. Seenaknya keluar masuk pintu hati, tanpa ketuk sopan atau salam permisi. Aku berada di antara potongan bait elegi parau dan adegan drama senda gurau.
Tertawakan aku, yang menjalankan lakon lugu. Tak memahami bahwa beranjak itu bukan sekadar merentang jarak, ada kamar hati yang semestinya berganti huni.
Esok menjiplak kemarin dan lusa sama seperti ini. Kau mengulang kehadiran di saat aku butuh sendiri.
Pagi kau menjelma embun, menggodaku untuk menjulurkan lengan dan menangkapmu yang melenggang turun. Haruskah tanganku menengadah untuk sekadar menjadi tempatmu mengalir?
Siang kau menjelma hujan,memaksaku mencari tempat berteduh dan berdiam diri menghentikan segala kesibukan.Haruskah kau turunkan semua air di langit untuk sekadar mendapat perhatianku?
Malam kau tenggelamkan rembulan, sebab tak ada yang benar-benar bersinar bila langit sudah melukismu. Bisakah aku menjelma batu gua, yamg tak peduli perputar…