Pergerakan Mahasiswa dan Disruptive Innovation

Pemerintah sering kali dijadikan kambing hitam atas masalah yang ada di masyarakat. Sayangnya, dengan anggaran, personel, dan waktu yang terbatas, pemerintah memiliki prioritas tersendiri yang telah diagendakan. 

Hal ini pada akhirnya menyisakan celah-celah masalah yang belum tertangani. Karenanya dibutuhkan pihakpihak lebih efisien untuk mengisi kekosongan ini. Lagipula pada dasarnya bukan hanya pemerintah yang semestinya bertanggung jawab menjaga wilayahnya. 

Sejak jatuhnya rezim Orde Baru, mahasiswa kerap digadang- gadang sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Namun sudah bukan zamannya lagi frase ini diejawantahkan dalam aksi turun ke jalan dan melempar hujatan kepada pemerintah. Protes tanpa dasar hanya akan membuat kebisingan tanpa terselesaikannya akar permasalahan. Untungnya mulai tampak tren yang menggeser pergerakan mahasiswa dari jalan ke lapangan. Salah satu bentuk pergerakan ini dituangkan dalam wadah socio-entrepreneurship

Para mahasiswa berinovasi untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat dengan menggunakan kerangka bisnis. Nama-nama seperti Alia N Anoviar (Dreamdelion), Alfi Irfan (Agrisocio ), dan Dikri Paren (indves.com ) cukup banyak didengungkan di dinding kampus dan menjadi inspirasi bagi yang lain. Namun, apakah inovasi-inovasi yang mereka bawa itu cukup? Terkait dengan inovasi bisnis, barangkali ada baiknya untuk mengulas sebuah konsep yang digagas Clayton Christensen, yakni disruptive innovation

Professor Harvard Business School ini mengenalkan disruptive innovation sebagai produk yang mengakar dari pasar lapisan pasar terbawah kemudian meroket hebat ke lapisan atas dan menggeser para pesaing yang telah berdiri kokoh. Konsep ini berbeda dengan breakthrough innovation yang cenderung berkaitan dengan penemuan baru yang mutakhir, namun belum tentu bisa mendobrak arus utama. 

Christensen menekankan bahwa inovasi yang ia gagaskan harus memenuhi aspek keterjangkauan harga dan kemudahan akses untuk mencapai skala populasi yang besar. Dengan demikian dampaknya akan dirasakan secara luas dan berangur menggiring tren pasar. Tidak semua inovasi bersifat disruptive, meskipun itu revoluisoner. 

Salah satu contoh yang cukup menggambarkan adalah bagaimana Steve Jobs membawa komputer yang sebelumnya berbentuk sebesar rumah hingga kini menjadi perangkat portable yang bisa dibawa keluar rumah. Konsep ini tentunya tidak mustahil untuk diterapkan dalam ranah bisnis sosial. Para mahasiswa bisa berlomba membuat inovasi yang menyebrang dari arus pasar serta fokus untuk membawa produk dengan potensi penetrasi pasar secara luas. 

Tentunya hal ini harus dilakukan tanpa mengurangi tujuan utama untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Dengan kebebasan berekspresi, peluang untuk berkontribusi serta kesempatan berinovasi, mahasiswa kini bisa menjadi bagian dari perubahan negeri. 

Menyalahkan pemerintah bak menunjuk hidung sendiri karena masalah yang ada di masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Pergerakan bukan lagi soal arak-arakan mengusung spanduk karena bersuara tidak harus berisik.


artikel ini dimuat di kolom poros mahasiswa Koran Sindo edisi 23-03-2016

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu