Pekarangan Malam



Kunang-kunang tak pernah berjanji untuk selalu bersinar menghiasi pekarangan malam. Sehingga tak ada pengganti bintang yang bisa diharapkan, untuk sekadar menyadarkanmu, bahwa setitik kilau gemerlap begitu anggun di tengah kegelapan. Dan kau selalu tersenyum karenanya.

Jika setiap bintang di angkasa mewakili jiwa yang masih bernafas di bumi, kau tak akan menemukanku menggantung manja. Karena aku lebih memilih menjadi langit malam. Agar saat kau memandang ke atas sana, kau dapat menikmati pijar kerikil angkasa yang menerangi wajah teduhmu. Aku senang melilhatmu menengadah dan tersenyum, walau tak benar-benar sedang menatapku.

Malam adalah definisi dari kelam yang mendamaikan. Jembatan antara kemewahan senja dan kelembutan fajar, dengan gemerlap kebijaksanaan di sepertiga ujungnya. Kemudian ditutup dengan sepasang jeda yang lebih berharga dari dunia seisinya.

Kuharap kita bisa menjejakkan kaki bersama di sana. Mensyukuri keindahan kilau kejora yang dititipkan sementara. Selanjutnya terjun dalam pasrah sungkur, atas perihal yang telah kita usahakan dengan sepenuh daya.

Jika terik siang adalah tempat memeras peluh. Maka malam diciptakan untuk melindungi layaknya pakaian.  Ia menyediakan waktu untuk memejamkan mata dan melepas lelah. Ia juga memberikan kesunyiaan yang cukup untuk membuka kesadaran, bahwa ada yang sedang berbisik mendoakan.

Sayangnya, malam tak memiliki sudut, tak juga mempunyai tepi. Karenanya terkadang aku bingung di mana kuharus menyimpan rindu. Adakah kedip genit bintang yang dapat membantuku sampaikan salam?

Bicara soal bintang, aku tak mengerti bagaimana sebuah rasi digambarkan. Ia memang membantu pelaut untuk membaca arah mata angin dengan mudah. Hanya saja tak pernah kutemukan pola rasi yang bisa mengutarakan arah perasaan.



jetis, 21/01/2016


gambar dari sini

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati