Posts

Showing posts from 2016

Jika Kau Menghilang

Image
Jika kau menghilang dari bumi ini, Barangkali tidak akan ada perubahan yang kasat mata. Kereta api berangkat sesuai jadwal. Bioskop menayangkan film-film terbaru. Angin musim gugur membuat daun bergesekan. Semuanya berjalan seperti biasa.
Kecuali aku.
Jika kau menghilang dari bumi ini, Tak ada salam pagi yang bisa kuhantarkan. Tak ada senyum manis yang merekat bersama imajinasi senja. Rindu pun ling-lung mencari dermaga untuk berlabuh.
Jika kau menghilang dari bumi ini, bahkan dengan keberadaanmnu yang tak pernah kuketahui sebelumnya, aku akan terjebak dalam pencarian yang tak kupahami. Tanpa tahu apa, aku terus meraba. Tanpa tahu di mana, aku terus menelusuri.
Mungkin tidak ada yang peduli dengan nyanyian gumammu. Tapi aku menikmati caramu menghirup nafas. Tak ada yang tahu kebiasaan berjalan-jingkatmu, tapi aku justru menghitung jejak mungil itu. Walaupun kau sering merasa tak punya arti, nyatanya kau selalu berada di antara  kedip mataku yang lelah menatap dunia.
Asal kau tahu, setiap…

Sajak yang Hilang

Image
Aku sudah mulai lupa bagaimana cara menulis sajak. Rangkaian kalimat yang ingin kuuntai kehilangan diksi dari lumbung aksara. Aku bingung bagaimana menyusun kata demi kata untuk sampaikan penggalan yang bermakna.

Jika hal yang ingin diutarakan tak bisa terekam pada bait bait yang ku tulis, tak ada lagi medium yang bisa mewadahi beratnya sebuah pengakuan. Sementara bibir tentu tak kuasa menggetarkan suara. Di hadapan tatapanmu aku hanya menyeracau dengan bahasa bisu.
Entah sampaikan aku menyimpan, entah sampai kapan itu terpendam. Barangkali ia akan tertelan hilang dan barangkali ia menguap habis.
Jika syair diibaratkan hidangan salad yang tersaji pada sebuah piring, bukan hanya aku tak mampu memilih sayur segar beserta sausnya, ketidakberdayaanku mengakar dari ketidakmampuan untuk menumbuhkan sehelai daun. Lantas apa yang harus kusajikan?
Entahlah… barangkali memang tak perlu dipaksakan

Biarkan sajak yang hilang itu menjadi bagian awan yang lewat. Bila memang pas waktu dan kondisinya, ia …

Belajar dari dan di Jepang

Semalam saya mendapatkan email dari kepala program studi untuk memberikan tulisan mengenai pengalaman selama pertukaran pelajar beserta nilai-nilai yang saya dapat. Sudah lebih dari setahun saya menyelesaikan program tersebut. Saya perlu mencungkil kembali ingatan-ingatan saya untuk kemudian menuangkannya dalam rangkaian kalimat berikut:


Keputusan untuk mengikuti program pertukaran pelajar bukan hal mudah. Keterbatasan pendanaan, perbedayaan budaya, dan risiko tertinggal kuliah juga berbagai aktivitas kampus membuat kaki saya gemetaran untuk melangkah keluar negeri. Akan tetapi setelah menjalani hiruk pikuk kehidupan di negeri matahari terbit selama 5 bulan penuh, saya merasa telah membuat suatu keputusan terbaik. Dengan doa orang tua dan dukungan teman-teman, saya meneguhkan hati untuk mengikuti petuah merantau Asy-Syafi’i “Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.”
Di awal kedatangan, Jepang benar-benar memberikan kesan yang menawan. Seperti yang digambarkan di komik atau an…

Yang Muda Yang Berinvestasi

Sering kali orangorang di sekeliling kita menasihati untuk rajin menabung guna membekali hidup di masa tua. Dalam nasihat tersebut, terdapat paradigma yang kurang tepat terkait dengan pengelolaan aset. Memang benar penghematan adalah cara terbaik untuk menginjak rem konsumsi yang terkadang sulit terkendali. Namun, alokasi penghematan itu seharusnya diletakkan pada keranjang yang tepat, yakni investasi.


Menabung sama halnya dengan membiarkan nilai aset tergerus di dalam brankas perbankan. Alasan pertama karena harga kebutuhan terus naik sepanjang waktu dan yang kedua karena kita punya kesempatan lain menggunakan aset tersebut bekerja untuk kita. Jika menabung hanya ditujukan untuk menekan laju konsumsi, nasihat tersebut mestinya ditujukan untuk orang tua, bukan para generasi muda yang produktif.


Masa muda adalah saat yang tepat untuk memulai investasi. Setelah memenuhi kebutuhan pribadi dan rohani, hasil dari bekerja bisa disisihkan untuk diputar kembali. Inilah yang dimaksu…

Bohong

Image

8 menit

Image
Mereka bilang tak butuh waktu lama bagi angkasa untuk tenggelamkan matahari. Ufuk menelan cahaya dan sore perlahan terpejam, menyisakan gurat mega merah yang merona pada hamparan awan. Berapa lama kah langit tersipu seperti itu?
Barangkali secepat itu kita meniti pertemuan tadi. Aku bukan seseorang yang pandai membawa percakapan. Dan sepertinya kau pun tak kalah pendiam. Sekejap perbincangan ringan itu berujung pada salam perpisahan, menyisakan sepatah kalimat yang belum tersampaikan.
Barangkali secepat itu pula aku menanam perasaaan, mengisi sepetak ruang hati yang tak berhuni. Walau belum tentu hatimu mencerminkan yang sama, aku berharap benih rasa ini tidak hanya tertimbun, namun tumbuh dan menemukan mataharinya.
Di sela-sela tunduk malumu, kucoba mencuri pandang. Sayangnya bola mata kita bertemu pada satu tatapan tanggung. Mimik gugup tak membawa kita ke manapun selain situasi yang semakin canggung.
Aku tersenyum. Kau pun tersenyum. Menertawakan apa yang tidak benar-benar kita menger…

Terima Kasih atas Ketidakpedulianmu

Image
Kusampaikan terima kasih atas ketidakpedulianmu.
Terima kasih untuk menjadikan aku sepatah sapa yang hanya menggantung di langit-langit kelas. Menjadikan aku gelombang panggilan yang merambat melas. Menjadikan aku sepucuk surat yang tak disambut balas.
Karena dengan begitu, sedikit demi sedikit aku bisa melupa. Membungkam rasa yang terlalu banyak bicara. Menghapus jejak yang pernah terinjak sekaligus mencari langkah lain untuk beranjak.
Itukah maksudmu?
Hati tak pernah lebih besar dari segenggam tangan, namun rasa didalamnya bukan kerikil untuk dicungkil. Sekali diambil kau akan lihat lubang besar yang menganga, lebih dari cukup untuk menelan egomu yang menggunung.
Kau bisa bedakan antara satu dan nol. Walaupun semesta hidup tidak berjalan dengan sandi binerik. Walaupun hati tak memiliki kutub maupun sudut. Setidaknya kau bisa jelaskan jarak yang merentang antara iya dan tidak.
Namun, kau pilih bisu.

Sekali lagi terima kasih. Diammu membuatku merasa penting. Membuatku merasa memiliki temp…

Embun Pagi Ini

Image
Azan berkumandang. Tapi di luar sana. Ayam berkokok kencang. Tapi tak kudengar. Beton kamarku cukup tebal untuk membungkam keramaian. Atau kupingku yang terlalu bebal menerjemahkan gelombang suara. Aku menggigil saat semua memanggil.
Aku bangun. Tentu saja. Seperti biasanya. Sekadar mematikan alarm handphone yang telah berdering untuk ketigakalinya.
Baiklah, pada akhirnya aku harus bangun. Kaki tergeret beranjak, tapi tak sampai di rumah-Nya. Cukuplah menjejak jengkal di sepetak lapak untuk bersujud. Sekadar menggenapi satu dari lima yang kelak dituntut.
Takbir dan salam tertangkup pada kesadaran tipis, bahwa jungkir balik telah berakhir. Segala di antaranya memekat gelap. Aku bak pengarung angkasa yang bergerak melalui lubang cacing, menembus ruang hampa yang menghubungkan satu titik dengan titik lain.
Jangan tanya tuma’ninah, aku menggelar sajadah hanya untuk kemudian bisa merebah. Yang khusyuk hanya mata, yang lurus hanya telunjuk. Segalanya habis tertelan kantuk. Entah bagaimana aku b…

Ingin Melupa

Image
Bagaimana kubisa melupa? Bayangmu telah kubuang tapi kau tak pernah benar-benar hilang. Seenaknya keluar masuk pintu hati, tanpa ketuk sopan atau salam permisi. Aku berada di antara potongan bait elegi parau dan adegan drama senda gurau.
Tertawakan aku, yang menjalankan lakon lugu. Tak memahami bahwa beranjak itu bukan sekadar merentang jarak, ada kamar hati yang semestinya berganti huni.
Esok menjiplak kemarin dan lusa sama seperti ini. Kau mengulang kehadiran di saat aku butuh sendiri.
Pagi kau menjelma embun, menggodaku untuk menjulurkan lengan dan menangkapmu yang melenggang turun. Haruskah tanganku menengadah untuk sekadar menjadi tempatmu mengalir?
Siang kau menjelma hujan,memaksaku mencari tempat berteduh dan berdiam diri menghentikan segala kesibukan.Haruskah kau turunkan semua air di langit untuk sekadar mendapat perhatianku?
Malam kau tenggelamkan rembulan, sebab tak ada yang benar-benar bersinar bila langit sudah melukismu. Bisakah aku menjelma batu gua, yamg tak peduli perputar…

Menunggu Pagi

Image
Aku terjaga menghabiskan malam, membersamai benda langit yang menolak tertelan gelap. Lengang, tak ada yang berani menantang sunyi, tak terkecuali lembar daun yang enggan bergesekan. Kusibak selimut udara yang menggenapi ruang. Dalam sepetak kecil kamar itu, kusangga badan di atas kaki mungil. Jemariku mengkerut kedinginan.
Bukan syair bukan puisi, bibirku membisikkan bait-bait sesengguk. Aku sadar bahwa terkadang rasa tak perlu disampaikan dengan kata-kata. Ragaku ingin menggapai, tapi dayaku hanya sebatas tangkup tangan di depan dada. Tak mampu menatap, aku hanya menghadapkan wajah.
Bisakah kau dengar? Bak jantung yang tak pernah berhenti, perasaanku terus berdegup – memompa energi ke seluruh tubuh untuk hidup. Tanpanya aku keronta, tanpanya aku lunglai. Cinta membawa candu di lorong-lorong nadi. Menyebar ke semesta tubuh yang terus menagih. Di sela hela, nafasku memburu hirup rindu.
Kau tahu jelas. Aku memang berharap, seperti ilalang kering yang menatap awan mendung. Namun harapan it…

Esok

Image
Kenapa harus kusapa esok sementara kau tak di situ? Kenapa harus kuberanjak bersama waktu bila kau bukan masa depanku? Biarkan aku berdiri mematung di balik bayangmu saat ini. Di manakah letak keadilan? Jika untuk bersama menyaratkan persetujuan yang sama, seharusnya tak ada yang berhak memisahkan secara sepihak. Dari langkah yang selama ini selalu sejajar, kini jejak merentang jarak. Janji yang dulu diikatkan pada kelingking kecil itu telah lepas, menyisakan jemari rapuh yang menggenggam kekosongan. Aku hanya bisa menatap punggungmu menjauh dan perlahan menghilang. Sebenarnya, telah kusiapkan diriku untuk kata selamat tinggal. Walau kulatih dan kuulang berkali kali, sepenggal frase itu tak pernah benar benar terucapkan. Jika membayangkannya saja sudah menguras air mata, betapa kering keronta dadaku bila mendengarnya. Dengar, terlepas dari di sisi manapun kau berada, aku tak pernah menganggapmu masa lalu. Sebab garis waktu terlalu fana untuk merangkai cerita kita. Biarkan ilalang menjadi s…

Pergerakan Mahasiswa dan Disruptive Innovation

Pemerintah sering kali dijadikan kambing hitam atas masalah yang ada di masyarakat. Sayangnya, dengan anggaran, personel, dan waktu yang terbatas, pemerintah memiliki prioritas tersendiri yang telah diagendakan. 

Hal ini pada akhirnya menyisakan celah-celah masalah yang belum tertangani. Karenanya dibutuhkan pihakpihak lebih efisien untuk mengisi kekosongan ini. Lagipula pada dasarnya bukan hanya pemerintah yang semestinya bertanggung jawab menjaga wilayahnya. 

Sejak jatuhnya rezim Orde Baru, mahasiswa kerap digadang- gadang sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Namun sudah bukan zamannya lagi frase ini diejawantahkan dalam aksi turun ke jalan dan melempar hujatan kepada pemerintah. Protes tanpa dasar hanya akan membuat kebisingan tanpa terselesaikannya akar permasalahan. Untungnya mulai tampak tren yang menggeser pergerakan mahasiswa dari jalan ke lapangan. Salah satu bentuk pergerakan ini dituangkan dalam wadah socio-entrepreneurship

Para mahasiswa berinovasi untuk berkontribusi…

Cinta, Takut, dan Harap

Image
Adakah cinta dalam takbirmu? Sehingga kau dirikan badan tanpa paksaan. Kenapa pula harus terjaga, saat kelopak mata mengerut manja. Saat bumi terselimut malam, tangismu pupus ditelan kegelapan. Lantas cahaya apa yang sedang kau nantikan?
Bila yang kau hamparkan di atas sajadah adalah cinta, pastikan jejak yang kau ikuti adalah jalan sang penuntun. Sebab ia akan membawamu pada pintu kasih dan ampun.
Adakah takut dalam rukukmu? Sehingga kau tundukkan kepala bukan karena rutinitas belaka. Sadarkah kita akan keagungan zat yang maha kuasa. Sementara kita tak lebih dari bonggol rakus dari setitik yang hina. Lantas apa yang bisa dibusungkan?
Telah sampaikah kesadaran, bahwa tak sejengkal pun gerak kita terlewat tanpa diawasi. Bagaimana pula menutup noda yang bak jamur di musim hujan. Kaki dan tangan bersaksi, apakah kita simpuh tersungkur di hadapan-Nya atau tersingkir dari ridha-Nya.
Adakah harap dalam sujudmu? Sehingga kau pasrah dalam jeda tuma’ninah. Tak perlu bertanya apakah pantas beranga…

Mencarimu

Image
Di suatu tempat yang jauh aku mencarimu. Mekipun tak kuketahui tempat itu, aku telah bertekat untuk mencarimu.
Ini bukan soal di mana. Karena aku yakin akan menemukanmu. Entah itu di pinggir bengawan, di balik rumbun ilalang, atau di antara cabang pematang. Aku terus mencari walau tak mungkin kau berada di situ.
Lelah ku menahan luka. Tapi barangkali itu yang pantas kuterima. Kusia-siakan segala yang telah kita bangun dengan canda dan tawa. Dan selama ini aku hanya berharap bisa kembali pada saat kita masih bersama.
Percayalah, aku tak ingin hari itu berganti, dari detik-detik yang kau gunakan untuk merekahkan senyum, dari sekelibat tatapan yang membuat wajahku marun, dari degup gugup yang entah bagaimana harus kutimbun.
Melalui jejak-jejak buram yang kau tinggalkan, aku terus menulusuri. Barangkali akan berujung di himpitan gedung perkotaan, di jajaran bangku terminal, atau di sepanjang jalan setapak menuju sekolah kita dulu. Aku terus mencari walau itu bukan tempat persembunyian.
Saat ak…