Di Balik Payung




 Di balik payung itu, tersembunyi wajah sendu – menatap hampa genang air yang merekam langkah-langkah dingin. Ia berjalan namun tak beranjak. Ingin pergi tapi tak ada tempat berpijak.

Di permukaan wajah itu, mengalir air mata – menjalar ke bawah tapi tak benar benar rela untuk jatuh. Ada jerat yang menarik di ujung retina. Lebam kenangan mengikat gulana.

Lewat air mata itu, terwakili perasaan yang terpendam – berkecamuk dalam tempayan yang rapuh. Entah ke mana harus dibawa, entah bagaimana bisa bermuara.

Dalam perasaan itu, tersimpan sosok bisu – menjelma siluet gelap yang tak teraba. Ia ingin melupa namun tak seujung kuku ia berdaya.

Di ujung lengan sosok itu, tergenggam sebuah payung – menampis butir air yang digelincirkan langit. Begitu cemburu ia pada hujan: berulangkali jatuh tanpa pernah merasa runtuh.

Di balik payung itu, ia basah kuyup. Tapi bukan karena hujan.


pdeb, 12/12/15


gambar dari sini

Comments

  1. nice yan
    btw gue selalu bingung lo kalo nulis ginian dapet inspirasi dr mana? apa emang udah bakat terpendam ya (?)

    ReplyDelete
  2. makasih fit,
    ga tau juga ya, sekepikirannya aja. tapi emang nargetin sebulan senggeaknya bikin ginian sekali.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini