Posts

Showing posts from December, 2015

Di Balik Ketidakjujuran

Berita mengenai penipuan, korupsi, ataupun tindakan kriminal lainnya sudah seperti sarapan pagi untuk masyarkat. Setiap hari, melalui koran, televisi, maupun jaringan internet, kita disuguhi kabar perilaku ketidakjujuran ( dishonesty ) yang bahkan terkadang diluar nalar. Walaupun sudah seperti hal yang lazim, ketidakjujuran tentu bukan untuk dimaklumkan. Sistem norma yang ada dalam masyarakat menentang tindakan kecurangan, baik dari sisi agama, hukum, maupun etika sosial. Para pelanggar itu sebenarnya juga tahu bahwa ada batasan dan konsekuensi berupa sanksi. Meskipun demikian perilaku tersebut tidak hilang begitu saja. Lantas apa yang mendasari tindakan ini terjadi? Gery Becker adalah ekonom pertama yang mencoba menjabarkan motif tindakan ketidakjujuran dari sudut pandang ilmu ekonomi. Dalam teori Simple model of Rational Crime (SMORC), Becker (1974) menjelaskan bahwa tindakan kriminal (yang juga bisa diasosiasikan dengan ketidakjujuran) didasarkan atas perhitungan untung rugi

Belajar Mencintai

Sebuah pepatah Jawa berbunyi, “ Awiting trisno jalanan soko kulino - tumbuhnya cinta itu karena kebiasaan”. Pepatah ini menjadi salah satu nilai yang dipegang sebagian masyarakat Jawa, bahwa perasaan – dalam ilmu ekonomi biasa diasosiasikan dengan istilah preferensi – bisa  dipelajari dengan pembiasaan yang didasari kerelaan. Preferensi tidak seketika terbentuk begitu saja dan tidak pula diwariskan dari garis keturunan. Anggapan bahwa preferensi merupakan bawaan lahir tidak tepat, sebab preferensi merupakan konstruksi kumulatif dari pengaruh berbagai macam faktor dan bisa terus diperbarui. Pemikiran bahwa preferensi merupakan default dari perilaku masing-masing orang muncul dari ketidakmengertian atas alasan keputusan pilihan yang tampak terjadi secara natural. Inilah yang mendasari mengapa seringkali terdengar ungkapan ‘memang dari sananya’. Misalkan, seorang perempuan cenderung menyukai warna pink ketimbang laki-laki, padahal semestinya warna tidak bisa diasosiasikan dengan f

Baik Baik Saja

Image
Revisi karya akhir tertolak lagi. Pembimbing jebolan the ivy league ini memang suka nyinyir kalau sudah menyangkut pengolahan data dan pendalaman analisis. ‘Variabelnya nggak stasioner dan pengambilan sudut pandangnya kurang seksi’ katanya. Andai dia bisa melihat bagaimana bentuk bibirnya saat mengomel itu, ia juga harus merevisi definisinya tentang stasioner dan seksi. Cuaca buruk dan serangan hama menjadi kombinasi yang paling pas untuk menghembuskan kabar gagal panen. Ditambah menipisnya persediaan di pasar, peristiwa ini membawa harga komoditas pertanian melambung tinggi. Sesuai dugaanku, warung langganan sebelah juga tak mau kalah dalam mengatrol harganya. Setidaknya ia tidak menagih wi-fi gratisan yang bisa kuakses dari sudut kamar. Kasus korupsi dalam salah satu badan usaha milik negara terendus. Proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik digerogoti hingga triliunan rupiah. Nama-nama yang diduga kuat terlibat dalam kebusukan ini terkuak satu per satu, tidak

Di Balik Payung

Image
 Di balik payung itu, tersembunyi wajah sendu – menatap hampa genang air yang merekam langkah-langkah dingin. Ia berjalan namun tak beranjak. Ingin pergi tapi tak ada tempat berpijak. Di permukaan wajah itu, mengalir air mata – menjalar ke bawah tapi tak benar benar rela untuk jatuh. Ada jerat yang menarik di ujung retina. Lebam kenangan mengikat gulana. Lewat air mata itu, terwakili perasaan yang terpendam – berkecamuk dalam tempayan yang rapuh. Entah ke mana harus dibawa, entah bagaimana bisa bermuara. Dalam perasaan itu, tersimpan sosok bisu – menjelma siluet gelap yang tak teraba. Ia ingin melupa namun tak seujung kuku ia berdaya. Di ujung lengan sosok itu, tergenggam sebuah payung – menampis butir air yang digelincirkan langit. Begitu cemburu ia pada hujan: berulangkali jatuh tanpa pernah merasa runtuh. Di balik payung itu, ia basah kuyup. Tapi bukan karena hujan. pdeb, 12/12/15 gambar dari sini