Posts

Showing posts from October, 2015

Tolong jaga dia

Image
Dalam rapal doa yang didesiskan sebelum cahaya, Terulang kembali pinta dari rindu kemarin sore. Tolong jaga dia, agar aku bisa menjaga diriku.
Dari dunia yang dipenuhi berlian, Kau angkat ia sebaik-baik perhiasan. Tolong jaga dia, agar bisa kucium bau surga.
Atas peluh yang menetes bak embun, alirkan kebaikan yang mengusap daki. Tolong jaga dia, atau terus kuketuk pintu langit.
Untuk sekian purnama yang terlewat, bersama kasih tanpa pamrih. Tolong jaga dia, karna surgaku di bawah telapak kakinya.



liman, 26/10/15

gambar dari sini


Jarak dalam Depa

Image
Apalah guna jarak diukur dalam satuan depa? Jika saat bertemu tak sekalipun lemparkan sapa. Kita berjalan mendekat hanya untuk kemudian berpapasan. Lalu kaki kita melangkah ke arah yang berlawanan.

Masihkah arti kata ‘kita’ mewakilkan lakon ganda? Sementara aku dan kau terdikotomi pada ruas jalan yang berbeda.Tak ada harapan yang terikat, tak pula ada janji yang terucap.

Aku tak tak yakin kita berada dalam titik jeda, sebab tak kunjung kulihat tanda-tanda kalimat selanjutnya. Padahal dari bibir yang terkatup itu, ada jawaban yang pernah ditunggu. Rupanya sia-sia selama ini kumenyimpan tanda tanya.

Aku tahu, diammu bukan tanpa makna. Sorot mata itu tidak tak seperti dulu. Memang masih sendu, tapi jelas bukan untukku.

Biarkan demikian…

Tak ada yang bisa dipaksakan bila masing-masing berpihak pada keegoisan. Lalu apalagi yang harus dilakukan kalau bukan meniti jalan sendirian. Maka kuteguhkan diri untuk tidak menoleh kembali.

Sudah saatnya aku beranjak, merentangkan jarak untuk melawan jejak. …

Melepas Rindu

Image

Sang Cendekiawan Sudah Lelah

Sang cendekiawan sudah lelah Tergeletak kaca matanya di sudut meja Tak dilihatnya langit senja, tak serupa subuhnya kala
Buminya dikangkangi beton dan besi, mengencingi jemari sungai hingga muara Bau amis sepanjang jalan protokol tangan menengadah pada cucuran luber, untuk ganjal mulut atau menutup perut
Sang cendekiawan berbaring manja  Ia telanjang, lucut tanpa pena Menatap buku usang tanpa aksara ia lupa cara berbicara
Bukan karena bisu ia hanya diam tersumpal suap sendok para mandor tersulam benang pesanan para kontraktor
Doktrinnya muncrat berbusakan dalil meludahi wajah para jelata dekil Walaupun di luar nalar, kebenaran milik para pembayar
cerobong asap di kota-kota mengepul bersama cerutu, dihisap sang penjuntai kaki di kursi goyang
ia hanya diam





NB: dibacakan dalam lomba puisi Econtal-FEBUI 2015 (Juara 2)