Pendamping Tanpa Bunga



Sungguh kau tak perlu kebingungan mencari pendamping wisuda, kawan. Tak usah gelisah bila sosok yang kau dambakan tak jadi menggandeng tanganmu selepas keluar dari altar pengukuhan hasil studi. Jangan memelas, apalagi mencari-cari joki pengganti di situs lelang bebas.

Akan datang padamu, pendamping tanpa bunga – menatap kagum dirimu yang berdiri tegak mengenakan toga. Barangkali mereka tak sempat bawakan cinderamata lantaran tergesa-gesa ingin menemuimu. Tapi kawan, sungguh kau juga harus bangga mengakui mereka adalah: orang tuamu.

Jauh-jauh hari, pada kalender kusam yang tergantung di dinding rumah, mereka lingkari tanggal wisudamu dengan spidol merah. Bersejingkat dari hari ke hari, waktu yang mereka lalui adalah penantian tanpa rasa lelah, untuk melihatmu menjadi sarjana yang berprestasi.

Kemungkinan besar mereka tak begitu mengerti lantunan gaudeamus igitur yang mengiringi prosesi khidmat itu. Tapi jelas keberadaan mereka di situ menyorakkan keberhasilanmu dan mendoakan dirimu untuk terus tumbuh berkembang. Mereka juga tak terlalu menghiraukan saat kuncir tali topi di kepalamu dipindah dari kiri ke kanan. Tapi mereka menaruh harapan besar agar ilmu yang kau peroleh dapat teraplikasikan dengan kombinasi kerja otak kiri dan kananmu.

Perlu kau tahu bahwa jauh di kampung halamanmu, dirimulah yang menjadi topik pembicaraan di sudut obrolan ruang tamu, di sela-sela rumpi ibu-ibu, atau sekedar monolog pengantar tidur. Terlepas dari apapun yang sebenarnya kau lakukan selama kuliah, merekalah yang paling doyan berbagi cerita tentangmu: mahasiswa perantau yang belajar di kampus perjuangan.

Di saat kau bergumul dengan tumpukan tugas, mereka sedang membanting tulang tanpa keluh kesah. Mereka usahakan segala pemunuhan kebutuhanmu, apalagi urusan yang katamu untuk membeli ‘buku’. Seringkali mereka sisihkan uang belanja untuk pastikapan ketercukupan gizimu.  Mereka iyakan permintaanmu untuk membeli segala perangkat yang bahkan tak mereka pahami. Selain itu, mereka babat habis sepertiga malam untuk panjatkan doa kebaikan atasmu, berharap pintu langit terbuka dan segera memberikan balasan.

Kawan…

Jika mereka benar-benar datang di hari bahagia itu, peluklah mereka. Peluklah erat-erat. Tak perlu kau ucapkan apapun. Dekapan tanganmu yang tulus cukup untuk salurkan rasa syukur atas jerih keringat dan rapal doa yang tiada hentinya tercurah untukmu.

Dalam pelukan itu, andai kau bisa lihat, dibalik punggungmu mereka deraikan air mata kebahagiaan. Lalu segera mereka seka ujung mata, agar saat kau tatap kembali wajah mereka, yang tersisa hanya senyum yang merekah. Karena saat itu yang mereka ingin lakukan hanyalah mengusap-usap rambutmu dan berkata lirih, “Kami bangga padamu, Nak”

Barangkali nanti ada beberapa temanmu yang juga datang menghantarkan selamat. Tentu kau boleh menemui mereka. Namun pastikan kedua orang tuamu ditempatkan dengan tepat. Mintalah waktu barang sejenak dengan sopan.

Perlu kuingatkan kembali, orang tuamu bukan sekedar teman delapan semester. Bertahun-tahun mereka ada dalam senang dan sedihmu, sembari menanti agar namamu digemakan pada dinding-dinding kampus impianmu. Mereka mungkin tak pandai bersorak ria di depan kamera, berteriak ”cheese!”, dan mengunggahnya di beranda SNS. Namun tak ada yang bisa mengalahkan mereka soal menyimpan dan menceritakan memori terbaik bersamamu.

Setelah itu, kawan…

Lekaslah keluar dari euforia yang kurang berarti. Dunia yang akan kau hadapi bukan tempat haha-hihi. Gelar baru yang tersemat pada namamu itu dinanti para kawula negeri, bukan untuk dayang yang sekedar menjadi pemanis foto selfie.





gambar dari sini

Comments

  1. I can relate strongly to this writing, although my graduation was already two years ago.
    Alhamdulillah masih bisa memeluk mereka dengan toga.
    Great job Pyan! :)

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Deep. Terharu banget bacanya. Thumbs

    ReplyDelete
  5. makasih semuanyaaa... *maap telat
    tahun depan giliran gue, doakan yak!

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Laksana Hujan

Hai Kamu