Di balik Keberangkatan dan Keterlambatan



Setiap orang memiliki rutinitas yang terjadwal seperti sekolah, bekerja, berdagang, atau ada janji pertemuan tertentu. Untuk menuju ke sana kita melakukan perjalanan yang memerlukan waktu. Berbagai cara kita siapkan untuk mengantisipasi keterlambatan. Dari sinilah kita menentukan keputusan waktu keberangkatan. 

Bagaimanapun budaya ‘jam karet’ di Indonesia, pada dasarnya keterlambatan merupakan sesuatu yang tidak diinginkan. Akan ada sanksi moral maupun material bila kita terlambat, setidaknya atasan kita bisa mengomel begitu melihat kita mengetuk pintu kantor saat yang lain sudah berkonsetrasi dengan pekerjaannya. Selain itu, keterlambatan merugikan orang lain yang menunggu kehadiran kita. Di artikel yang lain penulis telah memberikan penjelasan tentang mahalnya biaya menunggu.

PIlihan waktu kerberangkatan

Bagi para pekerja, sudah pasti keterlambatan menjadi hal yang dihindari. Namun ini tidak membuat mereka bangun di pagi buta dan berbondong-bondong datang beberapa jam sebelum masuk kerja. Menunggu waktu mulai kerja bisa jadi adalah hal yang membosankan. Di lain sisi mereka tidak menginginkan hadir melewati batas waktu yang telah ditentukan. Kehadiran tepat sebelum jam kerja dimulailah yang paling diinginkan.

Kengganan dalam beda waktu antara kedatangan dan batas keterlambatan (waktu mulai kerja) dapat ditinjau dari bagaimana individu mempersepsikan jeda perbedaan waktu tersebut pada waktu perjalanan menuju kantor. Sedangkan waktu perjalanan itu sendiri mengandung kerugian (disutility) karena ia harus menunggu sampai tujuan.

Sebenarnya estimasi pilihan waktu keberangkatan merupakan hal yang cukup unik. Walaupun waktu adalah satuan kontinu, tapi keberangkatan cenderung diambil pada pilihan tertentu (discrete choice). Misalnya, walaupun seseorang sudah tahu waktu tempuh bepergian, sangat jarang ia berangkat keluar rumah pada waktu di luar kelipatan 10 menit atau 15 menit. Sadar atau tidak, kita lebih suka berangkat di waktu-waktu seperti 7:30, 08:00 ketimbang 7:27 atau 7:43. Konsiderasi waktu keberangkatan seperti membuat distribusi probabilitas keberangkatan lebih mudah dipantau.

Sebuah penelitian dilakukan oleh Small di tahun 1982 yang menganalisis 12 kemungkinan waktu keberangkatan (interval 5 menit) di area San Fransisco Bay yang memiliki penetapan waktu mulai kerja ofisial. Dengan asumsi para pekerja mengetahui waktu tempuh dan realibilitas perjalanan ke kantor, kepuasan (utility)mereka dalam memilih waktu keberangkatan (atau kedatangan di tujuan) dipengaruhi oleh waktu tempuh, jeda perbedaan waktu kedatangan dengan batas mulai kerja, serta terjadinya keterlambatan.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa satu menit kedatangan lebih awal dipersepsikan setara dengan menghabiskan 0,613 menit lebih lama dalam perjalanan. Hal ini berarti individu tersebut rela bermacet-ria  di jalan untuk mengurangi waktu kedatangan yang terlalu awal. Atau barangkali ia bisa mampir ke warung nasi uduk untuk sarapan.

Sedangkan jeda waktu kedatangan setelah batas waktu mulai kerja dipersepsikan lebih parah. Satu menit terlambat di tempat tujuan setara dengan menghabiskan 2,4 menit lebih lama dalam perjalanan.

Tidak sampai di situ, keterlambatan itu sendiri juga memberikan dampak buruk seperti adanya pemotongan gaji atau hukuman tertentu. Hal ini yang membuat orang berpersepsi lebih baik menghabiskan 5.47 menit lebih lama di perjalanan ketimbang terlambat.
Persepsi individu pada jeda keterlambatan ini berujung pada tingkat kepuasan individu dalam memilih waktu keberangkatan. Selain memperkirakan waktu tempuh perjalanan menuju kantor, ia akan memutuskan waktu keberangkatan dengan mengukur keengganan dari jeda waktu tersebut.

Dari tingkat kepuasan setiap individu  tersebut, dapat dicari tahu proporsi waktu-waktu keberangkatan sebuah populasi, termasuk di antaranya probabilitas mereka yang terlambat. Tentunya hal ini berlaku dengan catatan objek individu-individu memiliki waktu mulai kerja yang serentak seperti sampel data yang diambil Small.

Perbaikan Transportasi dan Keterlambatan

Andaikan pemerintah memperbaiki transportasi (baik dalam sistem maupun fisik) sehingga watu tempuh perjalanan menjadi semakin cepat, hal ini tidak menjamin berkurangnya proporsi masyarakat yang datang terlambat bekerja, bahkan ada kemungkinan bertambah. Dengan waktu tempuh perjalanan yang berubah, individu melakukan penyesuaian pada jadwal keberangkatan.

Seseorang yang biasanya berangkat kerja pukul 07:00 bisa jadi mengubah keberangkatan pada pukul 07:15 setelah dibangun jalan alternatif yang mempercepat waktu perjalanan. Sedangkan bagi yang biasa berangkat pukul 07:15 belum tentu mengubah keberangkatannya persisi pukul  07:30 karena adanya risiko terlambat. Pada akhirnya hal ini dapat membuat keputusan jadwal keberangkatan terkonsentrasi pada waktu yang sama dan menimbulkan kemacetan di jalan. Alhasil, waktu tempuh perjalanan menjadi semakin lama dan justru semakin banyak orang yang terlambat.

Lantas apakah perbaikan transportasi tidak penting? Tentu saja itu penting. Namun apa yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perbaikan tersebut mengarah pada penigkatan reliabilitas transportasi ketimbang hanya mempercepat waktu tempuh perjalanan. Reliabilitas di sini berarti ketepatan dan kepastian sebuah moda transportasi saat mengantarkan individu dalam sebuah perjalanan. Di mana-mana kepastian memang lebih diinginkan dari pada harapan kosong.

Selain terjadinya kecelakaan atau musibah tak berpola lainnya, hal yang paling mengganggu reliabilitas transportasi adalah kemacetan. Sulit memperkirakan waktu tempuh perjalanan bila terjadi kemacetan. Oleh karennya prerencanaan perbaikan transportasi harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kemacetan. Jika pembangunan jalur kereta mampu memberikan reliabilitas transportasi lebih baik, pembuatan jalan alternatif darat yang berpotensi mengundang kemcetan baru sebaiknya dihindari.

Waktu adalah uang. Dalam ilmu ekonomi transportasi, pepatah tersebut bisa ditafsirkan dengan melakukan perbandingan waktu perjalanan dan gaji seperti yang dijelaskan dalam artikel ini. Individu mempersepsikan waktu perjalanan (value of time) setengah sampai dua kali lipat dari tingkat gaji per satuan waktunya. Dengan demikian tentunya ia menginginkan waktu tempuh perjalanan yang lebih cepat.

Namun nilai ketepatan (value of reliability) dari waktu perjalanan jauh lebih dihargai. Dalam sebuah penelitian, Bates (2001) mengemukakan bahwa value of reliability dianggap 0.8 sampai 1.3 kali lipat dari value of time. Dengan kepastian akan transportasi yang lebih baik, individu bisa menentukan waktu keberangkatan tanpa takut mengalami keterlambatan.




Tulisan ini dimuat di portal gagasan SELASAR sabtu, 1 Agustus 2015

Tinjaun lebih lanjut:
Bates, John et al. (2001) “The valuation of reliability for personal travel,” Transportation Research
37E: 191–229.
Small, Kenneth A. dan Harvey S. Rosen (1981) “Applied welfare economics with discrete choice
models,” Econometrica 49: 105–30

Small, Kenneth A. dan Erik T. Verhoef (2007) “The Economics of Urban Transportation” New York: Routledge

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu