Antara Memiliki dan Kehilangan



Tanganku melepasnya walau sudah tak ada.
Hatimu tetap merasa masih memilikinya.
Rasa kehilangan hanya akan ada.
Jika kau pernah merasa memilikinya.

Penggalan lirik lagu “Memiliki Kehilangan” yang dilantunkan grup band Letto ini bukan sekedar racikan aksara yang membentuk prosa indah, melainkan hasil dari pemikiran yang mendalam akan premis-premis di balik proses kehilangan.

Kehilangan apa yang kita miliki sudah pasti menyakitkan, baik itu sesuatu, seseorang, posisi atau yang lainnya. Bahkan perasaan saat kehilangan itu bisa lebih dalam dari kebahagiaan saat mendapatkan hal yang sama. Barangkali terdengar klise, namun sebenarnya konklusi ini juga diamini dari sudut pandang ilmiah.

Loss Aversion

Bayangkan Anda sedang berada pada dua situasi. Di situasi pertama Anda diberi uang satu juta rupiah secara cuma-cuma lalu Anda dihadapkan pada pilihan yang harus diambil: mendapatkan tambahan 500 ribu secara langsung atau diberi kesempatan mendapatkan satu juta dengan peluang 50%.

Sedangkan di situasi yang kedua, Anda diberi uang dua juta rupiah secara cuma-cuma. Lalu jika Anda diberi pilihan antara kehilangan 500 ribu secara langsung atau kehilangan satu juta dengan kemungkinan 50% – yang juga berarti 50% tidak kehilangan apapun, manakah yang Anda pilih?

Apakah di situasi pertama anda Anda memilih untuk mendapat 500 ribu secara langsung dan di situasi kedua anda mencoba mengundi nasib berharap kesempatan 50% untuk tidak kehilangan apapun? Jika memang demikian, Anda seperti kebanyakan orang.

Pada dasarnya dua situasi di atas adalah identik alias sama sekali tidak berbeda. Pilihan pertama di masing masing situasi merupakan sebuah kepastian dalam mendapatkan Rp 1.500.000. Sedangkan pilihan kedua di masing masing situasi adalah kepastian mendapatkan Rp 1.000.000 dengan tambahan kesempatan 50% untuk menjadi Rp 1.500.000.

Terlepas dari bagaimana persepsi kepuasan individu menilai perolehan uang, pilihan yang diambil haruslah konsisten. Bila kita memilih pilihan pertama (memperoleh Rp 1.500.000) di situasi pertama, di situasi yang kedua pun semestinya kita juga memilih pilihan yang pertama. Begitu juga sebaliknya bila kita preferensi kita cenderung pada pilihan kedua.

Bahkan jika kepuasan benar-benar dihitung dengan satuan uang, nilai ekspektasi masing-masing pilihan di setiap situasi adalah sama, yakni Rp 1.500.000. Dengan demikian preferensi kita bisa menjadi sama (indifference) antara keempat pilihan di semua situasi.

Lantas mengapa kebanyakan orang berani mengambil risiko saat di situasi kedua tapi tidak di situasi pertama? Individu mempunyai kecenderungan menghidari kerugian/kehilangan (loss aversion). Hal ini tidak lain terjadi karena adanya endowement effect, yakni tendensi individu menilai lebih tinggi untuk sesuatu yang telah dimilikinya.

Eksperimen Mug

Sebuah eksperimen unik dilakukan oleh pakar Behavioral Economics, Daniel Kahneman untuk meninjau adanya endowment effect. Di kelas perkuliahan yang dia empu, ia membagi mahasiswanya ke dalam dua kelompok, satu mendapat mug dan satu lagi tidak.

Di kelompok yang mendapatkan mug, mahasiswa diminta untuk mematok harga yang ingin mereka terima bila harus menjual mug tersebut (willingness to accept). Sedangkan mahasiswa yang tidak mendapatkan mug diminta untuk menaksir harga mug yang menurut mereka wajar untuk dibeli (willingness to pay).

Hasil dari percobaan ini menunjukkan adanya perbedaan penilaian dari keduanya. Mahasiswa yang memegang mug merasa pantas mugnya dijual dengan harga rata-rata $ 7,12. Di lain kubu mahasiswa sisanya mau membeli mug tersebut dengan harga rata-rata $ 2.87. Kenapa bisa berbeda jauh?

Mahasiswa yang telah diberi mug, sekalinya mereka mendapatkannya, ia merasa tidak ingin kehilangannya. Barangkali ini merepresentasikan apa yang dimaksudkan Letto dengan “Tanganku melepasnya walau sudah tak ada, hatimu tetap merasa masih memilikinya”. Perasaan memiliki inilah yang membuat mereka menjual mahal.

Sedangkan mahasiswa yang tidak diberi mug merasa tidak terlalu membutuhkannya. Bagi mereka, melepaskan sesuatu terasa lebih memberatkan ketimbang kebahagian yang terasa saat mendapatkan sesuatu yang benar-benar sama.

Eksperimen endowment effect di atas telah banyak mengalami perkembangan oleh ekonom lain seperti apa yang dilakukan Ziv Carmon dan Ariely juga Plott dan Zeiler. Namun yang jelas endowment effect ini membuat adanya perbedaan antara willingness to pay dan willingness to accept.

Dalam kehidupan sehar-hari, para pelaku bisnis kiat kali memanfaatkan endowment effect ini untuk meningkatkan keuntungan. Contohnya, di tempat perbelanjaan biasanya para penjual mempersilakan Anda untuk menjajal makanan atau pakaian dagangan mereka. 

Hal ini secara tidak sadar meningkatkan rasa kepemilikan Anda akan barang tersebut. Boleh jadi Anda terbujuk untuk tidak melepaskan begitu saja barang yang telah anda coba. Pada akhirnya Anda harus merogoh kantong agar bisa memiliki barang tersebut.

Kembali pada kasus awal, di situasi pertama individu cenderung memilih pilihan pertama (500 ribu secara langsung) karena karena dia keinginan untuk mendapatkan tambahan tidak terlalu besar dan ia tidak mau mengambil risiko untuk hal itu.

Sedangkan di situasi kedua, orang cendering mengambil pilihan yang berisiko ketimbang langsung kehilangan 500 ribu. Dengan kata lain yang ekstrim, apapun dilakukan agar tidak kehilangan apa yang sudah ia miliki.

Seperti apa yang dilantunkan Noe (Vokalis Letto), “Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya”. Kehilangan memang menyakitakan dan rasa memiliki lah yang mendasari penderitaan atas kehilangan tersebut. Maka jika kita terlalu takut untuk kehilangan, jangan terlalu berani untuk memiliki.

Untuk menutup tulisan ini, perlu menjadi peringatan bagi kita bahwa:

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” QS.Ali 'Imran:109


Terlepas entah itu barang berharga atau orang yang kita sayangi, dengan pemahaman yang baik atas titipan-Nya, kehilangan bukan lagi soal kesengsaraan, melainkan hikmah untuk pribadi yang lebih baik.



Tulisan ini dimuat di portal gagasan SELASAR Jumat, 7 Agustus 2015

Comments

  1. Halooo...halooo salam kenal. Ternyata endowment effect toh namanya yg byk dialami konsumen

    ReplyDelete
    Replies
    1. haloo... salam kenal juga. Begitulah, meskipun kadang itu tidak disadari.

      Delete
  2. serius keren banget kak :""

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu