Posts

Showing posts from August, 2015

Pendamping Tanpa Bunga

Image
Sungguh kau tak perlu kebingungan mencari pendamping wisuda, kawan. Tak usah gelisah bila sosok yang kau dambakan tak jadi menggandeng tanganmu selepas keluar dari altar pengukuhan hasil studi. Jangan memelas, apalagi mencari-cari joki pengganti di situs lelang bebas.
Akan datang padamu, pendamping tanpa bunga – menatap kagum dirimu yang berdiri tegak mengenakan toga. Barangkali mereka tak sempat bawakan cinderamata lantaran tergesa-gesa ingin menemuimu. Tapi kawan, sungguh kau juga harus bangga mengakui mereka adalah: orang tuamu.
Jauh-jauh hari, pada kalender kusam yang tergantung di dinding rumah, mereka lingkari tanggal wisudamu dengan spidol merah. Bersejingkat dari hari ke hari, waktu yang mereka lalui adalah penantian tanpa rasa lelah, untuk melihatmu menjadi sarjana yang berprestasi.
Kemungkinan besar mereka tak begitu mengerti lantunan gaudeamus igitur yang mengiringi prosesi khidmat itu. Tapi jelas keberadaan mereka di situ menyorakkan keberhasilanmu dan mendoakan dirimu untuk …

Jatuh

Image
Jatuh Berdebum Buah durian yang dinanti matangnya Seketika mereka berebut sesamanya
Jatuh Terjembab Kurs rupiah yang dikhawtirkan selama ini Seketika panik para pemangku kebijakan
Jatuh Tersungkur Bocah yang belajar mengendarai sepeda Seketika ia bangkit dan mengusap tangisnya
Jatuh Berpendar Benda langit yang dikira bintang Seketika terbisik harapan yang terpendam
Jatuh Bertempias Hujan yang membasahi bumi Seketika luntur solek palsu itu
Jatuh Berayun Sehelai daun dari tangkainya Seketika mata mengantarnya turun
Jatuh Senyap Sebongkah hati yang tertuju padamu
Seketika harus kukemanakan perasaanku?


Kyoto, 14/08/15
gambar dari sini

Antara Memiliki dan Kehilangan

Image
Tanganku melepasnya walau sudah tak ada. Hatimu tetap merasa masih memilikinya. Rasa kehilangan hanya akan ada. Jika kau pernah merasa memilikinya.
Penggalan lirik lagu “Memiliki Kehilangan” yang dilantunkan grup band Letto ini bukan sekedar racikan aksara yang membentuk prosa indah, melainkan hasil dari pemikiran yang mendalam akan premis-premis di balik proses kehilangan.
Kehilangan apa yang kita miliki sudah pasti menyakitkan, baik itu sesuatu, seseorang, posisi atau yang lainnya. Bahkan perasaan saat kehilangan itu bisa lebih dalam dari kebahagiaan saat mendapatkan hal yang sama. Barangkali terdengar klise, namun sebenarnya konklusi ini juga diamini dari sudut pandang ilmiah.
Loss Aversion
Bayangkan Anda sedang berada pada dua situasi. Di situasi pertama Anda diberi uang satu juta rupiah secara cuma-cuma lalu Anda dihadapkan pada pilihan yang harus diambil: mendapatkan tambahan 500 ribu secara langsung atau diberi kesempatan mendapatkan satu juta dengan peluang 50%.
Sedangkan di situasi…

Ketahuilah

Image
Ketahuilah, ada seseorang yang menaruh perhatian padamu dalam diam. Di balik kesibukanmu, ia cari tahu kabarmu lewat teman dan orang-orang terdekatmu. Barangkali tak seharipun ia lewatkan tanpa mengkhawatirkanmu.
Dia jugalah orang yang diam-diam bangun dari tidurnya dan mendoakanmu dalam dekapan tangannya. Ia habiskan malam tuk memeluk rindunya erat-erat. Tak ada yang ia tuntut dari langit pagi selain sinar mentari untuk selalu cerahkan hari-harimu.
Sejak bola mata kalian saling bertemu – yang mungkin tak kau sadari, ia telah memupuk harapan akan dirimu. Harapan yang membuatnya terus menanti senyummu di esok hari.
Sengaja ia rentangkan jarak denganmu agar kau lebih leluasa. Demi mimpi dan masa depanmu, sama sekali ia tak keberatan berpisah. Ia paham betul apa makna merelakan.
Ketahuilah, orang itu, betapapun besar perhatiannya, seringkali luput dari pikiranmu.
Bukanlah ia yang kau berikan kado ulang tahun. Bukan ia yang menerima ucapan selamat tidur.  Bukan pula ia yang kau sebut namanya…

Di balik Keberangkatan dan Keterlambatan

Image
Setiap orang memiliki rutinitas yang terjadwal seperti sekolah, bekerja, berdagang, atau ada janji pertemuan tertentu. Untuk menuju ke sana kita melakukan perjalanan yang memerlukan waktu. Berbagai cara kita siapkan untuk mengantisipasi keterlambatan. Dari sinilah kita menentukan keputusan waktu keberangkatan. 
Bagaimanapun budaya ‘jam karet’ di Indonesia, pada dasarnya keterlambatan merupakan sesuatu yang tidak diinginkan. Akan ada sanksi moral maupun material bila kita terlambat, setidaknya atasan kita bisa mengomel begitu melihat kita mengetuk pintu kantor saat yang lain sudah berkonsetrasi dengan pekerjaannya. Selain itu, keterlambatan merugikan orang lain yang menunggu kehadiran kita. Di artikel yang lain penulis telah memberikan penjelasan tentang mahalnya biaya menunggu.
PIlihan waktu kerberangkatan
Bagi para pekerja, sudah pasti keterlambatan menjadi hal yang dihindari. Namun ini tidak membuat mereka bangun di pagi buta dan berbondong-bondong datang beberapa jam sebelum masuk ker…

Kokok Ayam

Image
Kupikir kokok ayam yang membangunkanku tadi pagi. Ternyata degup rindu mengetuk berisik pintu hati.
Kupikir sinar mentari yang menerobos masuk lewat jendela. Nyatanya bayang kenangan memantul di tembok retina.
Perlu kau tahu, saat kubiarkan sepoi angin masuk ke dalam kamar, bukan bau embun sejuk yang kucium, melainkan jerat sesak kepergianmu.
Hari ini menggantikan yang kemarin. Esok menjemput di ujung senja. Entah berapa purnama sudah yang terlewat. Namun aku masih di sini.
Jarum jam mengeja detik – waktu yang kubunuh dengan perasaan hampa. Bumi berputar sebagaimana mestinya, tak acuhkan aku yang hampir menyerah pada kehidupan.
Dan beginilah aku, yang sampai hela ini, akan selalu dungu menafsirkan bagaimana hembus nafas bekerja.

Sebab aku yang tidak punya pilihan selain terus mencintaimu.


Ekoda, 3/8/15


gambar