Posts

Showing posts from July, 2015

Telah Usai

Image
Ramadhan telah usai, masihkah kau genggam Al Quranmu?
Sebelumnya, biasanya kau bolak-balik lembaran mukjizat itu. Kau lantunkan ayat-ayat yang menunjukkan tanda-tanda kuasa-Nya. Sesekali kau menyeka ujung mata yang berair karena kalbumu tersentuh. Di kereta, bangku kuliah, ruang kerja, atau antrian kasir supermarket, bisik tilawah merdu terdengar.  Kini kau biarkan kitab itu berdebu kembali di rak pajangan. Aplikasi mushaf digital itu juga hanya menjadi penggenap memori telepon genggamu.
Ramadhan telah berakhir, masihkah kau hidupkan malam dengan shalat?
Sebelumnya, kau rutinkan diri untuk medirikan rakaat-rakaat di musholla terdekat.  Kau rapatkan kaki ke kaki, pundak ke pundak, sejenak kau sela kefanaan dunia untuk tegakkan tiang agama. Kau habiskan malam untuk bersujud pada-Nya. Lalu kau tutup dengan yang ganjil sebelum menyentuh hidangan sahur. Kini, tak lagi kau gelar sajadah yang pernah menjadi saksi bisu degup kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya.
Ramadhan sampai di sini, masihka…

Sepi

Image
Salah bila ada prasangka bulan itu merana kesepian. Jauh ia rentangkan jarak pada bumi, namun sinarnya merengkuh menyelimuti. Lewat debur lembut ombak laut, ia titipkan belai kasih tanpa kalut, menyisakan buih-buih perasaan yang tak pernah surut.

Justru aku, wujud rapuh yang mengemis iba. Saat badan melebur bersama gemerlap keramaian malam, jiwaku meringkuk papa di sudut kegelapan: aku meratapi kesenderian.
Kuberteriak dalam diam. Kesalku tercekat pada gigi yang bergemeletuk tanpa ungkapan. Tak sekelabat mata menoleh peduli, tak terkecuali kunang-kunang taman yang enggan berbagi sinarnya.
Dalam sepi, yang kuinginkan hanya mencari sosok yang memahami diamku. Adalah Ia yang tahu harus berbuat apa tanpa perlu banyak “bagaimana”. Sebab tak perlu sayap bidadari untuk sekedar menyelimuti malamku yang dingin.
Mataku sendu berselimut rindu yang tumbuh bersama pilu. Andaikan saja kabarmu datang bak sepoi sejuk angin musim gugur. Tapi yang berhembus hanya rontokkan perasaan bersama jatuhnya daun mo…

SMT: Tabligh Akbar Tokyo

Image
Selama Ramadan, KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) mengadakain rangkaian acara untuk memeriahkan bulan yang mulia ini. Termasuk di antaranya ada Tabligh Akbar yang diselenggarakan setiap minggu, mengundang ustad dari Indonesia untuk menyuguhkan siraman rahani pada masyarakat muslim di Tokyo.
Dalam acara Tabligh Akbar tersebut pengelolaannya diserahkan kepada beberapa komunitas pelajar muslim di Tokyo. Waseda mendapat bagian minggu ketiga. Maka pada pengajian rutin Waseda, dibuatlah panitia kecil untuk mengurus acara tersebut. Cas cis cus, jadi. Risiko jadi yang paling muda di kelompok tersebut adalah harus sendiko dawuh, nurut disuruh ikut serta dalam kepanitiaan. Yasudahlah…
Awalnya saya kira cuma disuruh angkat-angkat barang dekorasi atau menyiapkan konsumsi buka puasa (siapa tau dapet jatah lebih). Ternyata saya kebagian menjadi MC acara. gubrak. Jelas in bukan tipikal kerja saya yang biasanya bermain (dalam arti yang sebenarnya) di belakang panggung. Tapi yasudahlah, setidak…

SMT Musholla kecil Waseda

Image
Awal mula ngampus di Waseda, saya cukup kesulitan untuk mencari tempat sholat. Sebenarnya cukup banyak masjid/musholla di Tokyo. Sayangnya jauh dan tidak memungkinkan untuk ke sana setiap waktu shalat. Hal ini membuat saya harus mencuri waktu dan tempat yang mungkin kurang pas. Saya pernah shalat di tangga darurat, di ruang kelas yang kosong, atau di gerbong kereta. Sampai pada akhirnya saya mendapatkan email dari International Office kalau tersnyata Waseda menyediakan musholla di kampus pusat.
Sebenarnya saya sudah bertanya ke beberapa teman namun yang mereka tahu hanya musholla di kampus barat (Nishi-Waseda) yang butuh 40 menit untuk ke sana. Bahkan teman muslim dari Brunei yang sudah satu semester di Waseda pun baru mengenai keberadaan musholla tersebut setelah saya beri tahu.
Di kampus pusat Waseda University, ada satu ruangan yang biasa digunakan shalat oleh para mahasiswa, tepatnya di Gedung 11 lantai 4. Setiap hendak menggunakannya, kami harus menyerahkan kartu mahasiswa dan meng…

Kupilih Rindu

Image
Di antara harap dan cemas, kupilih rindu, degup penantian yang menjadi teman malam. Adakah dirimu menanti di ujung fajar? Atau telah kau tinggalkan aku di bibir senja?
Nyatanya aku terbangun dengan dahaga, bersama cawan perasaan yang kering kerontang. Adakah engkau bersedia, tuangkan embun kasih barang setetes? Sejumput benih cinta menanti tumbuh kembali.
Padamu, dan diriku, terselip hati untuk merasa. Tapi perasaan bukan pilihan, melainkan kerelaan dan pembelajaran.
Sayat luka masih menganga. Kuperkenankan sejumput garam untuk bantu menolak lupa, pada legam keping kenangan.
Bisa saja aku berlari, bertolak dari peluk hangat mentari. Lalu mencari padang ilalang dan merebah, menyepakati takdir untuk bersembunyi.
Namun langkahku berbalik arah, bersejingkat pada jejak yang pernah kita pijak. Kaki-kaki telanjang ini hanya berani menapak masa lalu.
Maka tetap kupilih rindu, seganjal gundah yang tak menuntut tatap bertemu. Biarkan pahit kurasa, pada secangkir kopi yang diseduh tanpa pemesan.


Otsuk…