Selepas Sakura



Kini gerbong kereta tak ubahnya seperti kamar yang biasa menjadi tempatku melamun. Musim semi mengubah rutinitasku yang biasa menghabiskan beberapa lembar buku sebelum sampai di stasiun tujuan. Kulepaskan pegangan pada hand grip dan merapat ke pintu berjendela kaca, memberikanku kesempatan untuk mengamati keelokan di luar sana.

Di balik jendela kereta kulihat kelopak Sakura jatuh berguguran, pergi meninggalkan rating rapuh yang seakan ingin merengkuhnya kembali. Ia berpilin anggun bersama sepoi angin sore. Saat itu pula ingatanku melompat jauh ke belakang. Kereta melaju cepat, membelah padatnya kota. Sementara aku tak bisa bernjak dari dari masa itu.

“Kenapa Sakura hanya mekar tak sampai dua minggu dalam setahun?” Tanyamu polos dulu. Saat itu aku tak benar-benar memedulikan pertanyaanmu, tak sadar bahwa bersamamu adalah hal yang paling ingin kulakukan saat ini. Saat itu kita dipertemukan dalam waktu yang kurang tepat, atau kurang siap tepatnya.

Andaikan Sakura bisa berbicara, barangkali ia akan protes dan bertanya sepertimu. Mungkin ia sebal, memiliki keindahan yang memesona tapi tak cukup banyak waktu untuk bisa memamerkannya. Ia hanya jatuh pasrah saat harus berganti giliran dengan hijau dedaunan. Namun bagiku tak ada yang salah dengan itu. Sakura begitu menawan justru karena ia tidak mekar sepanjang tahun.

“Kalau aku terlahir kembali sebagai bunga, Aku ingin jadi Sakura” katamu entah untuk kesekian kalinya, “Semua orang tahu keindahan Sakura. Saat Sakura mekar, orang-orang pergi berpiknik untuk menikmati pemandangan pohon Sakura yang bersemi.”

“Apa asyiknya jadi bahan tontonan? Mungkin banyak orang yang justru akan kesal padamu?” coba kuselingi coletehanmu.

“Kenapa?”

“Karena kau hanya akan membuat orang menunggu. Banyak orang yang tidak suka berlelah-lelah menanti. Apalagi untuk suatu ketidakpastian” Andai kau tahu aku salah satunya.

“Tapi Sakura selalu menepati janji! Jika kau sabar menunggu, Ia pasti mekar di awal musim semi.”

Aku terdiam.

Kau benar. Sakura tak pernah mengingkari janji. Ia akan datang di waktu yang tepat, sehingga tak ada penantian yang terkecewakan. Ia menghiasi taman-taman saat cuaca dan suhu cukup nyaman untuk merekah, agar kita bisa menggelar tikar bersama orang-orang terdekat dan menikmati keindahan dari janji yang ditunaikan.

Dari sakura aku mengerti, bahwa hidup tak seharusnya berakhir pada musim dingin, saat langit muram menatap bumi. Sedang udara merengggut ceria mentari setiap pagi. Sakura datang bersama musim semi, waktu yang orang-orang percaya sebagai pemisah anatara pertemuan dan perpisahan. Maka di situlah letak untuk memutuskan untuk berhenti dan melanjutkan.

Dari Sakura aku belajar memaknai keindahan tanpa harus memiliki. Tak boleh menyentuh, apalagi memetik. Ada batas yang tak bisa ditekuk agar ia tetap bisa melihat ia tergantung anggun. Jarak akan memberikan pemahaman yang lebih baik dalam menghargai proses.

Aku sudah melihat Sakura dengan mata kepalaku sendiri. Cantik, tak meleset dengan penggambaran yang sering kau ceritakan. Tapi percayalah, kau tak perlu menjadi Sakura atau apapun untuk membuatku jatuh hati. Tetaplah jadi dirimu, Iris, bunga yang juga selalu menepati janjinya untuk mekar di saat yang tepat. Dan aku akan menunggu. 




Nerima, 20/6/15


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati