Teman



Di sepenggal kehidupanmu, boleh jadi kau menemukan seseorang yang menurutmu spesial, yakni satu dari sekian banyak orang yang saat kau mengibaskan pandangan, matamu terhenti padanya. Ia mengisi ruang kosong di hatimu yang sedari lama kau abaikan.  Ia yang dengan hanya senyum dan sapanya menggerakkan jiwamu untuk menumbuhkan perasaan.

Berawal dari perkenalan ringan, kau cari tahu segala hal tentang dia, mulai dari hobi, kebiasaan unik, makanan kesukaan,  alamat, tempat-tanggal-lahir dia dan juga adiknya, sampai sulit membedakan antara dirimu dan petugas sensus. Kau juga dekati teman-temannya dan berlagak seperti wartawan kelas kakap. Lalu kau jadi tahu segala hal tentang dia, tak terkecuali soal warna gelang yang ia gonta-ganti setiap harinya.

Jika kau punya kelas yang bersamaan dengannya, kau akan merasakan dua jam tercepat dalam hidupmu. Bahkan tak sempat untuk sekadar menjawab panggilan absen dari dosen. Selepas kelas itu,  waktu bagai karet yang memelar begitu elastis. Yang kau pikirkan hanya bagaimana memampatkan tujuh hari agar kau bisa lagi memandang ke sudut ruang itu: sosok yang kau kagumi diam-diam dari bangku belakang.

Kau coba mencari-cari kesamaan dengannya. Mendengarkan musik yang sama, membaca buku yang sama, atau berkunjung ke kantin di waktu yang sama. Bahkan kau rela menenggak jus wortel yang dulu kau benci hanya untuk sekedar bilang, “aku juga suka kok”. Baiknya adalah kau jadi meninggalkan batang tembakaumu karena ia tak tahan asap rokok.

Semakin lama kenal semakin kau dekat. Semakin banyak pula perhatian yang kau berikan. Kadang kau mengeluarkan usaha yang terlalu berlebihan. Kau jadi mengacaukan batas-batas prioritas yang dulu kau susun rapi. Padahal kau belum tahu apakah senyum yang ingin kau kembangkan di wajahnya itu teruntuk khusus dirimu atau sekadar menjaga kesopanan.

Ingin kuberitahu sesuatu, kawan. Sebelum ego menggiringmu melampau batas, sehingga kau berharap secara berlebihan, tenangkan dirimu.  Dunia ini tak hanya berisi dia seorang. Akan sangat disayangkan bila kau berhenti mendaki hanya karena kau menemukan bunga yang indah di tepi jalan. Kau bisa lanjutkan perjalananmu ke puncak gunung atau menerabas belantara untuk mencari mata air. Bukan air mata.

Jangan sibukkan dirimu dengan soal tebak-menebak perasaan. Apa yang ada dalam hatinya bukan sesuatu untuk direka-reka. Itu juga bukan cermin yang pasti memantulkan perasaan yang sama dengan milikmu, setidaknya mungkin belum untuk saat ini. Berikan kesempatan semesta untuk menjalankan perannya. Percayalah akan ada yang membalas senyum-sapa dengan ketulusan yang sesungguhnya.

Biar kuingatkan, kawan. Barangkali saat ini kau sedang menggunakan kaca mata kuda. Bagaimana mungkin kau bisa melihat ke sekelilingmu. Ada banyak teman-teman yang begitu baik. Mereka selalu mendukungmu. Tak peduli cuaca panas atau hujan deras, entah angin berhembus ke utara atau hanya diam saja, mereka ada untukmu. Di saat hari-hari bersejarahmu, bukankah mereka yang paling tanggap mengucapkan selamat? Atau saat kau dilanda kesulitan bukankah mereka yang pertama tergerak menawarkan bahu untuk bersandar? Lalu ke manakah ia yang kau harapkan itu?

Adalah teman, orang yang tanpa basa basi menyadarkanmu saat kau khilaf. Adalah teman, orang yang mengingatkanmu untuk selalu menjaga diri, atau saat kau lupa tentang PR minggu lalu. Adalah teman, orang – yang tanpa kau harapkanpun – akan  memberi tepuk tangan, seberapa pun kacaunya penampilanmu di atas panggung.

Kau boleh punya rasa, kawan. Tidak ada yang melarang. Tapi kau tidak bisa berharap atau menuntut sesuka hati. Setiap hati berhak jatuh di tempat manapun yang ia suka. Jika kau belum bisa bertanggung jawab atas perasaanmu dan belum pula mendapat kepastian tentang perasaannya, kau bisa masukkan ia ke kelompok yang kujelaskan tadi: teman.





Nerima, 11/04/15


gambar dari sini

Comments

  1. waahh ngena banget nih tulisan. kebetulan lagi galau hahaha. double thanks.

    ReplyDelete
  2. gya!! bener banget cerpennya kak :'D terimakasih banyak atas nasihat yang tersurat!

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu