SMT: Menulusuri Tokyo


Perkuliahan baru di mulai bulan April, artinya saya punya banyak waktu untuk melancong keliling Tokyo. Tentunya di luar jam orientasi yang telah di tentukan dari Waseda. Banyak destinasi turis yang menarik di Tokyo. Beserta beberapa teman dari Brunai Darussalam, saya melancong ke beberapa landmark terkenal di Tokyo.


Tempat pertama yang saya akunjungi adalah Harajuku. Apalagi kalo bukan soal tren fashion yang menjadi isu populer di sini. Di harajuku ada jalan bernama Takeshita street, tempat berjejer toko-toko busana maupun berbagai accessories muda-mudi. Adapula café tempat manggung idol group. Sudah pasti kita akan melihat light stick berseliweran di sini.



Kalau beruntung di jalan tersebut kita bisa melihat orang dengan dandanan harajuku banget. Beberapakali saya berpapasan, sayangnya saya tidak terlalu sigap mengangkat kamera. Setiap harinya 10.000 orang datang berkunjung untuk berbelanja, nongkrong, atau sekedar mencari tahu tren fashion terbaru. Tidak bisa dibayangkan dulu Harajuku merupakan desa kecil tempat tinggal samurai kelas rendah.

Dari hararajuku kami berjalan beberapa blok ke Shibuya. Di sinilah kami menemukan patung Hachiko, anjing yang terkenal dengan kesetiaannya. Barangkali kita mendengar kisah anjing berjenis Akita ini melalui film atau buku, tapi kisah anjing penunggu majikan ini benar adanya. Adalah Hidesaburo Ueno, seorang professor di Tokyo University yang merupakan majikannya. Setiap sore Hachiko selalu menanti kepulangannya di stasiun Shibuya, bahkan sembilan tahun setelah kematian sang pemilik Hachiko tetap melakukan kebiasaannya. Kisah legendaris ini menjadikan Hachiko sebagai simbol kesetiaan nasional.


Hal lain yang terkenal dari Shibuya adalah perempatannya, salah satu yang tersibuk di dunia. Di perempatan in kita dapat melihat pemandangan lautan manusia yang bergerak harmonis pada ruas jalan. Tempat ini seringkali nongol di film-film, di antaranya ada Fast and Furious dan Resident Evil.
Selanjutnya kami pergi ke Akihabara. DI sini surganya para penggila manga, anime, tokusatsu, dan berbagai entertainment Jepang lainnya. Untuk para wotta, café AKB48 pasti menjadi sasaran utama. Di sampingnya ada Gundam café, menjual makanan dengan bentuk yang unik-unik. Daerah yang juga dikenal dengan Akiba ini juga merupakan gudangnya peralatan elektronik, dari bahan-bahan perintilan sampai gadget terbaru.


 
Senang seharian bisa jalan-jalan ke berbagai tempat. Namun kami kesulitan mencari tempat shalat. Beruntung saya membawa sajadah kecil yang bisa praktis dipakai. Saya mencari gang sempit di Akiba untuk menunaikan shalat Ashar. Beberapa orang yang lewat sepertinya memperhatikan, namun saya cuek saja. Toh shalat itu menghadap ke Allah. 




Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu