SMT: Keluarga Baru

Salah satu kegiatan yang ditawarkan kampus dalam rangkain program pertukaran pelajar adalah homestay. Bekerja sama dengan organisasi Hippo Family, para pelajar AIMS masing-masing berkesempatan berkesempatan menginap di rumah penduduk jepang. Saya sendiri tinggal rumah keluarga Tsuchiya. Mari saya kenalkan satu-satu




Norihisha Tsuchiya, sang Bapak yang pekerja keras. Di hari kerjanya sebagai pegawai perusahaan IT, ia bisa menghabiskan waktu dari jam delapan hingga sepuluh malam. Meskipun sibuk ia sangat lengket dengan anak-anaknya, terlebih Konsuke yang selalu minta gendong. Saya sedikit sulit berkomunikasi dengannya karena masalah bahasa. Ia juga seorang yang cukup pemalu, namun selalu berusaha ramah dan membantu sebisa mungkin. Tampangnya memang kalem, tapi ia jagoan sky di hamparan salju.

Yuko Tsuchiya, sang ibu yang lembut dan baik hati. Sesuai dengan permintaannya, saya memanggilnya Okaasan (ibu). Saya juga putuskan menggunakan panggilan Otoosan pada suaminya. Okaasan cukup mahir berbahasa inggris, setidaknya cukup untuk berkomunikasi sehari-hari. Ia juga mahir memasak. Hobinya pergi ke café, pas sekali dengan apa yang saya oleh-olehkan, Kopi hitam asli Indonesia.

Konsuke Tsuchiya, bocah berusia 1 tahun lebih ini sangat suka makan. Setiap melihat orang makan ia selalau datang dan ikut campur. Wajahnya sangat menggemaskan, terlebih pipinya yang seperti bakpao dengan olesan saus tomat. Konsuke masih belum bisa bicara, tapi kalau sedang merajuk berisiknya minta ampun. Hobinya adalah minta gendong ayahnya.

Jinta Tsuchiya, sang kakak yang sudah masuk TK ini separuh riang separuh pemalu. Kadang ia takut-takut untuk bergaul, tapi kalau sudah nimbrung ramainya bukan main. Berbeda dengan adiknya, Jinta sangat sulit makan. Ibunya harus menyuruhnya berkali-kali agar dia menghabiskan semangkuk nasi yang ia anggurkan, sementara setumpuk nori sudah ia habiskan dulu. Hobinya adalah menonton Curious Monkey George.


Kami bertemu di Hanno beserta keluarga homestay yang lain. Pesta pertemuan berlangsung cukup seru. Saat sesi perkenalan, mereka berusaha sebisa mungkin dengan bahasa Indonesia, walaupun dengan pelafalan yang sedikit lucu. Saya pun tidak mau kalah, Hajimimashite! Selain itu, kami juga bermain beberapa game dan menari tarian trandisional Jepang.

Sesampai di rumah kami memasak okonomiyaki, sejenis takoyaki yang bentuknya seperti martabak. Bahan utama adalah tepung, telur, kubis, daun bawang, irisan cumi dan udang. Kemudian bahan-bahan tersebut dicampur menjadi adonan dan dipanggang sampai matang. Di atasnya dioleskan saus okonomiyaki serta kewpie mayonnaise. Lalu setuhan terakhir dengan taburan aunori (serbuk rumput laut) dan katsuobushi (serpihan tuna kering). Sambil menonton George kesukaan Jinta, kami makan bersama-sama. Oishi desu!

Sebelumnya saya sudah sampaikan ke mereka bahwa saya tidak makan babi dan minum alkohol. Mereka tahu. Saya juga tidak bisa makan sapi atau ayam yang disembelih di Jepang. Mereka baru tahu. Saya juga tidak makan apapun hari itu karena sedang puasa. Mereka akhirnya tahu setelah saya menggunakan kata danjiki. Walaupun agak sulit menjelaskan mereka akhrinya mengerti dan menghargai kepercayaan saya. Bahkan mereka sering bertanya-tanya ketika ingin menyuguhkan sesuatu – takut saya tidak bisa mengonsumsinya.

Sebagian besar masyarakat Jepang tdak beragama. Saat ke kuil pun biasanya hanya karena budaya saja. Ketika bertemu dengan saya yang mereka anggap banyak melakukan ritual keagaman, mereka jadi penasaran dan banyak bertanya, tak terkecuali keluarga Tsukichi. Saya pun sembari menikmati okonomiyaki menjelaskan lima waktu shalat beserta persoalan puasa.

Esok harinya saya bersama okaasan memasak masakan Indonesia: Gado-Gado. Saya sengaja membawa bumbu kacang dan santan instan jadi sewaktu waktu bisa saya pakai. Untuk bahan-bahannya bisa kami temukan di supermarket terdekat di hari sebelumnya. Acara memasak menjadi semakin ramai saat Kensuke dan Jinta ikut-ikutan. Saya biarkan mereka mengaduk santan sampai berantakan.

Siangnya kami berkumpul dengan lima keluarga lain untuk BBQ-an. Masing-masing keluarga membawa makanan khas Jepang, termasuk inarizushi milik okaasan. Tentunya saya membawa senajata rahasia: Gado-gado. Karena keunikan rasanya, ada yang sampai nambah dua kali, bahkan beberapa ibu-ibu bertanya soal resep sausnya. Senang rasanya masakan sendiri jadi idola.


Memang tak sampai dua hari kami bersama. Tapi sudah cukup bagi saya untuk merasakan kehangatan keluarga. Berat rasanya saat harus meninggalkan mereka. Namun salam perpisahan pada akhirnya terlantunkan juga. Dalam hati berharap suatu saat kami bisa berjumpa.






Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu