SMT: Sebuah Janji (part 1)

Saya sudah memendam keinginan pergi ke Jepang sejak kecil. Selain kegemeran saya pada anime dan manga, barangkali keinginan ini tumbuh karena ingin mengikuti ayah yang sempat belajar ke sana. Bahkan saya masih menyimpan komik (Derective Conan vol 12) oleh-olehnya. Dari situ saya berpikir suatu saat akan berangkat ke Jepang, bertemu karakter idola, dan membeli komik sendiri. Yah, namanya juga kepengen, hehe…

Di penghujung masa SMA saya mendapatkan pengumuman tentang kesempatan berkuliah di Jepang melalui program beasiswa Indonesia Leadership Award dari kerjasama Kemdiknas dengan dengan Lembaga Nanunggul Indonesia (LNI). Tanpa piker panjang saya pun mendaftar. Sebenarnya tidak ada jurusan yang benar-benar saya minati (Ilmu Ekonomi), namun pada akhirnya saya memilih jurusan civil engineering, Kyoto University. Di jurusan tersebut saya dapat mengambil konsentrasi urban planning yang cukup menarik bagi saya. Yah siapa tahu bakal jadi ahli tata kota.

Tes seleksi pertama (MIPA) dan kedua (English) berhasil saya lewati. Peserta semakin sedikit. Di kelompok jurusan yang saya ambil (seingat saya) menyisakan enam peserta untuk lanjut ke seleksi terakhir, wawancara. Sayangnya saya tidak berhasil menjadi empat orang yang beruntung bisa berkuliah di universitas yang memiliki simbol pohon beringin tersebut. Saya pun dengan ikhlas harus merelakannya. Barangkali Allah punya jalan lain. Meskipun demikian program ILA ini pada akhirnya memberi beasiswa untuk biaya pendidikan setelah saya masuk Universitas Indonesia (UI) di Jurusan Ilmu Ekonomi.

Saat libur panjang sebelum masuk awal kuliah, selain belajar untuk persiapan tes masuk UI, saya disibukkan dengan menyiapkan berkas pendaftaran Monbukagakuso, program beasiswa dari pemerintah Jepang. Sayangnya saya belum berhasil juga dalam seleksi tersebut. Mungkin nilai rapot saya waktu itu belum memenuhi. Bukan ini Jalannya.

Saat saya sudah berkuliah pun saya masih mencari-cari peluang untuk pergi ke sana. Di semester dua saya mendapat kabar dari teman saya yang berkuliah di Tohonku University bahwa kampusnya menyelenggarakan program pertukaran pelajar. Saya pun mengunjungi Internatioanal Office UI untuk mencari tahu info lebih lanjut. Sayangnya untuk daftar program tersebut minimal saya harus semester lima. Padahal program yang ditawarkan terkait dengan bidang keilmuan yang saya jalani. Baiklah, bukan yang ini juga.

Waktiu itu saya berpikir bahwa lebih baik mengambil program pertukaran pelajar di semester awal sebelum banyak amanah di kampus yang harus saya jalani, namun sepertinya saya harus berbuat seusatu dulu untuk negeri saya sendiri. Maka tibalah saya pada tanggung jawab untuk menjalankan program sosial-edukasi untuk anak jalanan di Depok serta menjadi bagian dari lembaga eksekutif di Fakultas Ekonomi UI.

Saya juga beberapakali mencoba mengikuti lomba karya tulis yang berhadiah tour ke Jepang atau program pertukran budaya. Namun kedangkalan analisis serta pengalaman yang masih hijau belum bisa menyungkil keberuntungan untuk bisa pergi ke sana. Bukan ini pula jalannya.

Lelah memang, tapi saya menganggap barangkali memang ini yang harus saya lewati. Setiap saya merasa down, saya mencoba menyapa teman-teman saya yang ada di Jepang. Sekedar menanyakan kabar atau berdiskusi hal tertentu. Entah apa pasal, saya pernah menjanjikan bahwa saya akan datang ke sana sebelum saya lulus dari UI. sesuatu yang belum tentu bisa saya sanggupi, tapi itu terucap begitu saja.

 

Di pertengeahan tahun kuliah saya menyibukkan diri dengan aktivitas kampus yang cukup menyita waktu. Karena itu berada pada ranah keilmuan, saya senang menjalankannya walaupun ini berarti menyimpan dulu impian saya sejenak. Hingga saya mendapatkan kabar untuk pertukaran pelajar ke Jepang dalam program ASEAN International Mobility Student (AIMS7) di Waseda University dan Ritsumeikan University. Tak ayal saya pun langsung menyiapkan segala berkas dan langsung mendaftar. Prosesnya tdak terlalu rumit, bahkan seleksi wawancara dengan Kepala Prodi jurusan pun berlangsung menyenangkan.

For your information, AIMS7 merupakan program G2G (government to government) antara Jepang dengan beberapa Negara ASEAN. AIMS7 memberi wewenang ke universitas tertentu untuk menunjuk dan merekomendasikan beberapa mahasiswanya untuk berkuliah satu semester di Waseda University dan Ritsumeikan University. Tidak ada biaya kuliah yang ditarik dari pihak Jepang, mahasiswa hanya perlu membayar sesuai dengan tempat kuliah asalnya. Adapun biaya tempat tinggal akan ditanggung waseda sedangkan biaya hidup didukung beasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan TInggi (DIKTI) yang nilainya cukup besar. So much win, kan?

Sekitar dua minggu kemudian saya mendapatkan email dari International Office (IO). Empat orang telah disetujui untuk mengikuti program AIMS, tiga di Waseda dan satu di Ritsumeikan. Nama Pyan Putro Surya Amin Muchtar tercantum di tiga orang yang beruntung tersebut. Senang bukan main rasanya tapi saya mencoba untuk menahan diri. Esoknya saya pergi ke International Office FEB UI untuk menanyakan hal tersebut. Salah seorang petugas mengonfirmasi kebenaran email tersebut. Ia juga menanyakan ke kepala IO FEBUI dan hasilnya pun sama: Saya direkomendasikan untuk mengikuti proram pertukaran pelajar di School of International Liberal Studies (SILS), Waseda University, Jepang.


Setelah konfirmasi tersebut baru saya mengabari orang tua. Tentu mereka senang dan mendukung. Saya juga memberitahu beberapa teman dekat, namun kabar tersebut meluas dengan cepat. Banyak yang menyampaikan selamat dan tentu saja, nitip oleh-oleh. Beberapa juga menyarankan saya untuk travel ke tempat ini itu atau membeli makan ini dan itu, padahal Letter of Acceptance aja belum punya.

Saya juga membuat timeline untuk perencanaan kehidupan akademis dan non akademis untuk setahun kedepan. Terlebih, saya harus mengatur bagaimana caranya agar tetap bisa lulus tepat waktu walaupun tidak mengambil satu semester di UI. Saya juga berkonsultasi dengan peserta AIMS sebelumnya untuk merencanakan kehidupan dan segala urusan akdemik lainnya, termasuk mengenai transfer kredit. Walaupun banyak yang masih belum mengerti tapi setidaknya saya ada sedikit gambaran bagaimana nantinya.

Sayangnya, kabar gembira itu tidak berlangsung lama. Sekitar dua minggu setelah itu saya mendapat telepon dari kepala IO FEB UI.

“Selamat siang, Ini dengan mas Pyan, ya?” sapa beliau dari telepon tersebut.

“Iya pak, benar saya Pyan. Ada yang bisa saya bantu?” saya masih belum tahu apa yang akan beliau sampaikan.

“Begini mas Pyan, kami mohon maaf dengan sangat, sebenarnya ada kekeliruan dalam pengumuman seleksi untuk program AIMS. Ada berkas yang tertukar saat dikumpulkan di meja saya. Saya ingin menjelaskan lebih lanjut tapi alangkah baiknya bila bisa bertemu langsung di kantor. Saya benar-benar meminta maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Duh, Jleb…… Jleb……

Sudah sampai di sini dan masih bukan yang ini?

Huft…


(to be continued)










Note: SMT merupakan kepanjangan dari Sebelum Matahari Terbit, kolom khusus untuk catatan saya selama di Jepang

Comments

  1. seelum gue ngeh kalo smt itu sebelum matahari terbit, gue sempat terpikir : seri mengenal Tuhan XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm... duh bukan kapasitas saya nulis soal tauhid fit. tapi gimanapun juga sebenernya kita punya kewajiban untuk mengenal Tuhan secara mendekat dan mendasar. rasanya pengen ngulang lagi pelajaran itu waktu mondok dulu.

      Delete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu