Sebelum Matahari Terbit



Sebelum matahari terbit, terjaga aku pada bait malam yang terakhir. Sepoi angin menabrak kaca jendela – menyisakan suara syahdu yang memanjakan. Sementara butir embun mulai bermunculan di ujung-ujung daun. Kulipat enggan demi waktu yang sangat berharga ini, yakni saat Engkau turun ke langit dunia untuk mendengar keluh, harapan, serta permohonan ampun dari mereka yang ingin menghadap-Mu.

Kupaksakan kakiku untuk berlutut, menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan. Saat yang lain belum membuka mata, aku justru tak tahan membendung derai tangis. Jika sesak dadaku untuk berbisik, tak bisakah air mataku berucap?

Ya Allah, Engkau ciptakan kami bermacam-macam bangsa, suku, ras, budaya beserta bahasanya. Tak lain karena Kau ingin agar kami saling mengenal, maka pertemukanlah kami agar kami saling memahami. Ingin kutunjakkan nafas agama-Mu itu menyejukkan: mengusung perdamaian dengan cinta-kasih.

Jelas kami berbeda. Itulah yang membuat dunia ini dinamis. Walaupun kecil, aku menggenapi miliaran lainnya, begitupula dengan yang lain. Sulit menyebut pelangi indah bila hanya ada satu warna, bukan?

Rasanya ingin aku berjalan di berbagai penjuru bumi-Mu, lalu kusebut asma-Mu. Ingin kudengar ‘assalamualaykum’ dari mereka yang belum pernah kukenal. Ingin kutahu bagaimana resistensi imanku dalam minoritas. Barangkali selama ini aku hanya mengikuti arus untuk bersujud pada-Mu.

Di luar sana, kata orang, sedikit muslim namun banyak Islam. Sebuah sindiran bagi tempatku yang banyak muslim namun sedikit Islam. Jika ini untuk kebaikanku, maka berilah aku kesempatan untuk belajar dari mereka. Barangkali aku yang telah lama mengenal-Mu ini hanya pandai memahami seruan tanpa ada tindak laku. Apa guna itikat baik bila tal berwujud pada amal?

Ya Allah, aku mencoba percaya bahwa jarak antara masalah dan solusi tak lebih jauh dari kening dan tempat sujud. Maka kulongsorkan kepalaku di atas sajadah yang menjadi saksi bisu atas rapal harapanku ini. Entah lewat pintu langit mana, yang jelas Engkau pasti mendengar keinginan hamba-Mu.

Sembari menyeka sudut mata, aku berbisik pelan, “Aku percaya Kau akan sampaikan aku pada matahari terbit”









NB: Sepenggal tulisan ini menjadi awal dari catatan mingguan saya selama di Jepang. Semoga bermanfaat

gambar dari sini

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu